Orang Tua di Jakarta Ingin Anaknya Segera Tatap Muka di Sekolah
Muhajirin
Sabtu, 07 Agustus 2021 - 17:42 WIB
Ilustrasi: Sekolah tatap muka dalam masa pandemi Covid-19. (Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency )
Survei terbaru Lapor Covid-19 menunjukkan mayoritas orang tua di Jakarta merindukan anak-anak mereka segera mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. Mereka ingin sekolah kembali dibuka jika tingkat penularan Covid-19 menurun dan situasi pandemi terkendali.
Survei ini dilakukan terhadap 23 ribu responden di Jakarta pada 30 April-15 Mei 2021 dengan tujuan mengetahui persepsi warga Jakarta tentang pembelajaran tatap muka. Sekitar 40 persen responden sepakat bahwa pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan apabila angka penularan sudah benar-benar turun.
Kolaborator Ilmuwan Lapor Covid-19 Dicky Pelupessy mengatakan, hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 37,42 persen orang tua ingin sekolah dibuka apabila pandemi berlalu. Sebanyak 11 persen responden setuju sekolah kembali dibuka apabila anak mereka sudah divaksin. Kemudian, 8 persen orang tua setuju sekolah dibuka saat survei dilakukan.
"Di tengah berbagai problematika belajar dari rumah, jelas orang tua menginginkan pembelajaran tatap muka ketika tingkat penularan sudah turun dan pandemi sudah terkendali,” kata Dicky melalui konferensi pers virtual, dilansir Anadolu Agency.
Dicky mengatakan ada hubungan antara kelas ekonomi orang tua dengan keinginan agar sekolah dibuka. Faktornya karena penghasilan mereka harian, sehingga mereka juga harus fokus pada kegiatan ekonomi. Implikasinya pada waktu mendampingi anak semakin berkurang.
Survei itu juga menemukan bahwa semakin tinggi pendapatan orang tua, semakin baik pula pemahaman mereka terhadap pentingnya vaksinasi bagi anak. “Pada kelas ekonomi menengah ke atas, vaksinasi dianggap penting sebagai dasar sekolah dibuka atau tidak. Isu vaksinasi anak dianggap lebih relevan dan memberi jaminan rasa aman bagi orang tua,” kata dia.
Meski demikian, Lapor Covid-19 juga menemukan bahwa masih ada responden yang mengalami berbagai kendala saat anak-anak mereka belajar jarak jauh. Hampir 5 persen responden melaporkan di rumahnya tidak ada gawai yang khusus digunakan untuk anak belajar, hampir 50 persen responden melaporkan ada gangguan internet, dan hampir 40 persen orang tua merasa biaya internet memberatkan.
Survei ini dilakukan terhadap 23 ribu responden di Jakarta pada 30 April-15 Mei 2021 dengan tujuan mengetahui persepsi warga Jakarta tentang pembelajaran tatap muka. Sekitar 40 persen responden sepakat bahwa pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan apabila angka penularan sudah benar-benar turun.
Kolaborator Ilmuwan Lapor Covid-19 Dicky Pelupessy mengatakan, hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 37,42 persen orang tua ingin sekolah dibuka apabila pandemi berlalu. Sebanyak 11 persen responden setuju sekolah kembali dibuka apabila anak mereka sudah divaksin. Kemudian, 8 persen orang tua setuju sekolah dibuka saat survei dilakukan.
"Di tengah berbagai problematika belajar dari rumah, jelas orang tua menginginkan pembelajaran tatap muka ketika tingkat penularan sudah turun dan pandemi sudah terkendali,” kata Dicky melalui konferensi pers virtual, dilansir Anadolu Agency.
Dicky mengatakan ada hubungan antara kelas ekonomi orang tua dengan keinginan agar sekolah dibuka. Faktornya karena penghasilan mereka harian, sehingga mereka juga harus fokus pada kegiatan ekonomi. Implikasinya pada waktu mendampingi anak semakin berkurang.
Survei itu juga menemukan bahwa semakin tinggi pendapatan orang tua, semakin baik pula pemahaman mereka terhadap pentingnya vaksinasi bagi anak. “Pada kelas ekonomi menengah ke atas, vaksinasi dianggap penting sebagai dasar sekolah dibuka atau tidak. Isu vaksinasi anak dianggap lebih relevan dan memberi jaminan rasa aman bagi orang tua,” kata dia.
Meski demikian, Lapor Covid-19 juga menemukan bahwa masih ada responden yang mengalami berbagai kendala saat anak-anak mereka belajar jarak jauh. Hampir 5 persen responden melaporkan di rumahnya tidak ada gawai yang khusus digunakan untuk anak belajar, hampir 50 persen responden melaporkan ada gangguan internet, dan hampir 40 persen orang tua merasa biaya internet memberatkan.