IDEAS: Krisis Pangan Bayangi Indonesia, Pemerintah Jangan Bergantung Impor Pasar Global
Muhajirin
Kamis, 21 Juli 2022 - 17:07 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Food and Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia mengingatkan bahwa krisis pangan membayangi banyak negara.Melansir fao.org, FAO menyatakan kelaparan akan terjadi di 20 titik di seluruh dunia selama Juni hingga September.
Peneliti Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Meli Triana Devi, menyebut krisis pangan marak terjadi di berbagai negara, tidak hanya di Indonesia.
"Saat ini krisis pangan sedang melanda di banyak negara tidak hanya Indonesia saja," kata Meli kepada LANGIT7.ID, Kamis (21/7/2022).
Krisis pangan tersebut ditandai banyak negara negara yang kini menerapkan kebijakan melarang ekspor pangan atau politik proteksionisme pangan. Itu untuk mengamankan pasokan pangan domestik dan harga pangan di pasar global yang kian melonjak.
"Politik proteksionisme pangan internasional ini tidak hanya mengambil bentuk pelarangan ekspor pangan saja namun juga pengetatan perizinan ekspor pangan dan pajak atas ekspor pangan," kata Meli.
Baca Juga:Komoditas Pangan Strategis Dimonopoli Segelintir Negara, Indonesia Bakal Terus Impor
Meli menjelaskan, sejumlah komoditas pangan strategis mengalami kenaikan harga yang drastis dalam enam bulan terakhir. Jagung dan gandum mengalami kenaikan harga hingga 30 persen, berturut-turut dari kisaran $265 dan $554 per ton pada Desember 2021 menjadi kisaran $345 dan $724 per ton pada Mei 2022.
Peneliti Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Meli Triana Devi, menyebut krisis pangan marak terjadi di berbagai negara, tidak hanya di Indonesia.
"Saat ini krisis pangan sedang melanda di banyak negara tidak hanya Indonesia saja," kata Meli kepada LANGIT7.ID, Kamis (21/7/2022).
Krisis pangan tersebut ditandai banyak negara negara yang kini menerapkan kebijakan melarang ekspor pangan atau politik proteksionisme pangan. Itu untuk mengamankan pasokan pangan domestik dan harga pangan di pasar global yang kian melonjak.
"Politik proteksionisme pangan internasional ini tidak hanya mengambil bentuk pelarangan ekspor pangan saja namun juga pengetatan perizinan ekspor pangan dan pajak atas ekspor pangan," kata Meli.
Baca Juga:Komoditas Pangan Strategis Dimonopoli Segelintir Negara, Indonesia Bakal Terus Impor
Meli menjelaskan, sejumlah komoditas pangan strategis mengalami kenaikan harga yang drastis dalam enam bulan terakhir. Jagung dan gandum mengalami kenaikan harga hingga 30 persen, berturut-turut dari kisaran $265 dan $554 per ton pada Desember 2021 menjadi kisaran $345 dan $724 per ton pada Mei 2022.