7 Sampah Antariksa Ini Pernah Jatuh di Indonesia, Terbanyak Milik China
Muhajirin
Selasa, 02 Agustus 2022 - 16:00 WIB
Sampah antariksa milik CNSA (Chinese National Space Administration) ditemukan warga Kalimantan Tengah pada 4 Januari 2021 (Dok LAPAN)
Masyarakat di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat baru-baru ini digegerkan dengan jatuhnya puing roket seberat 3 ton. Puing antariksa Long March 5B CZ5B yang merupakan roket bekas peluncuran modul stasiun antariksa milik Cina.
Ternyata sampah antariksa yang jatuh di Kalimantan Barat bukanlah yang pertama kalinya di Indonesia. Peneliti Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, mencatat sudah ada tujuh sampah antariksa yang jatuh di Indonesia.
Dia menjelaskan, sampah antariksa merupakan bagian roket peluncur atau satelit yang tidak berfungsi lagi yang mengorbit bumi atau dalam perjalanan menuju orbit. Jumlahnya mencapai belasan ribu.
“Karena hambatan udara, sampah antariksa di orbit rendah, ketinggian kurang dari 1.000 km, makin lama makin turun ketinggiannya,” jelas Prof Thomas melalui keterangan tertulis, dikutip Selasa (2/8/2022).
Baca Juga: Puing Roket Seberat 3 Ton Jatuh di Kalimantan Barat, Tidak Ada Korban Jiwa
Pada ketinggian sekitar 120 km, objek yang mengorbit bumi memasuki atmosfer padat dan mengalami efek pengereman. Pada ketinggian itu, objek antariksa tidak bisa bertahan di orbitnya dan jatuh dalam hitungan menit.
Ternyata sampah antariksa yang jatuh di Kalimantan Barat bukanlah yang pertama kalinya di Indonesia. Peneliti Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, mencatat sudah ada tujuh sampah antariksa yang jatuh di Indonesia.
Dia menjelaskan, sampah antariksa merupakan bagian roket peluncur atau satelit yang tidak berfungsi lagi yang mengorbit bumi atau dalam perjalanan menuju orbit. Jumlahnya mencapai belasan ribu.
“Karena hambatan udara, sampah antariksa di orbit rendah, ketinggian kurang dari 1.000 km, makin lama makin turun ketinggiannya,” jelas Prof Thomas melalui keterangan tertulis, dikutip Selasa (2/8/2022).
Baca Juga: Puing Roket Seberat 3 Ton Jatuh di Kalimantan Barat, Tidak Ada Korban Jiwa
Pada ketinggian sekitar 120 km, objek yang mengorbit bumi memasuki atmosfer padat dan mengalami efek pengereman. Pada ketinggian itu, objek antariksa tidak bisa bertahan di orbitnya dan jatuh dalam hitungan menit.