UAH: Jangan Toleransi Dukun dengan Julukan Mulia
Fajar adhitya
Rabu, 03 Agustus 2022 - 20:30 WIB
Ustadz Adi Hidayat (foto: istimewa)
Ramai perbincangan fenomena perdukunan berkedok agama setelah Marcel Radhival atau Pesulap Merah membongkar trik pengobatan Samsudin Jadab atau Gus Samsudin. Dalam Islam, perdukunan bisa mendatangkan kemusyrikan dan dosa besar.
Ustadz Adi Hidayat (UAH) dalam salah satu ceramahnya mengingatkan agar masyarakat tidak menolerir praktik kemusyrikan dengan julukan mulia. Terkait perdukunan, UAH menegaskan agar pelakunya tetap disebut dukun alih-alih guru spiritual, paranormal, atau sebutan keagamaan.
“Dukun sebut dukun. Jangan angkat paranormal, guru spiritual, kemudian didandani, kadang lebih hebat dari kiai, pakai jubah, pakai imamah. Kadang jubahnya lebih panjang dari Batman,” kata UAH dikutip Rabu (3/8/2022).
Baca Juga:Ini Ancaman bagi Seorang Muslim yang Percaya Dukun
UAH menjelaskan, pelabelan asal kepada pelaku perdukunan dapat menghambat tersebarnya kemusyrikan. Dengan demikian, lanjutnya, masyarakat jadi tahu dampak dan keburukan dukun.
“Kalau ada kadar kemusyirkan semacam ini, tampilkan dengan nama yang jelas, jangan disamarkan sehingga orang tahu dampak dan bahayanya. Ini syirik akbar,” katanya.
Diwartakan, Samsudin Jadab menggunakan panggilan “Gus” dalam julukannya. Gus sendiri adalah istilah dalam tradisi pesantren. Panggilan Gus ditujukan untuk putra Kiai atau ulama bagi masyarakat di Jawa yang biasanya akan mewarisi pesantren atau menjadi pengajar.
Ustadz Adi Hidayat (UAH) dalam salah satu ceramahnya mengingatkan agar masyarakat tidak menolerir praktik kemusyrikan dengan julukan mulia. Terkait perdukunan, UAH menegaskan agar pelakunya tetap disebut dukun alih-alih guru spiritual, paranormal, atau sebutan keagamaan.
“Dukun sebut dukun. Jangan angkat paranormal, guru spiritual, kemudian didandani, kadang lebih hebat dari kiai, pakai jubah, pakai imamah. Kadang jubahnya lebih panjang dari Batman,” kata UAH dikutip Rabu (3/8/2022).
Baca Juga:Ini Ancaman bagi Seorang Muslim yang Percaya Dukun
UAH menjelaskan, pelabelan asal kepada pelaku perdukunan dapat menghambat tersebarnya kemusyrikan. Dengan demikian, lanjutnya, masyarakat jadi tahu dampak dan keburukan dukun.
“Kalau ada kadar kemusyirkan semacam ini, tampilkan dengan nama yang jelas, jangan disamarkan sehingga orang tahu dampak dan bahayanya. Ini syirik akbar,” katanya.
Diwartakan, Samsudin Jadab menggunakan panggilan “Gus” dalam julukannya. Gus sendiri adalah istilah dalam tradisi pesantren. Panggilan Gus ditujukan untuk putra Kiai atau ulama bagi masyarakat di Jawa yang biasanya akan mewarisi pesantren atau menjadi pengajar.