LANGIT7.ID-Di pasar-pasar tradisional, di jalanan sempit kota, hingga di ruang-ruang digital yang remang, profesi peramal tidak pernah benar-benar hilang. Orang mendatangi mereka dengan harapan: ingin tahu nasib jodoh, karier, bahkan rezeki dan ajal. Fenomena ini kembali menjadi sorotan ketika sebuah potongan
hadits beredar luas:
مَن أَتَى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍBarangsiapa mendatangi peramal dan mempercayai ucapannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad – HR. Abu Dawud.
Dalam Fatawa
Al-Imam An-Nawawi disebutkan hadis itu bukan sekadar ancaman kosong. Ia mengandung peringatan keras yang menyentak hati kaum beriman. Bahwa mempercayai makhluk yang mengklaim tahu perkara gaib, berarti secara sadar atau tidak, telah mengingkari satu ajaran fundamental Islam: bahwa perkara ghaib hanya dalam pengetahuan Allah.
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ“Katakanlah: tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)
Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Fikih Tabiin? Berikut Ini Penjelasannya Kultur Meramal di Era ModernPraktik perdukunan dan peramalan telah mengalami rebranding. Ia tak lagi bertongkat dan berjubah, tetapi hadir dalam bentuk lebih modern: konsultasi tarot via Zoom, ramalan zodiak harian lewat Instagram, atau perhitungan feng shui dalam desain interior. Tapi esensinya sama: menebak masa depan, menjanjikan kepastian semu.
Dalam salah satu hadis sahih riwayat Muslim, Nabi ﷺ bersabda:
مَن أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةًBarangsiapa yang mendatangi peramal dan mempercayai omongannya, maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam. HR. Muslim.
Penegasan ini memperkuat dua hal: bahwa mengunjungi peramal adalah bentuk pelanggaran akidah, dan mempercayainya akan menghapus nilai ibadah seseorang untuk waktu yang cukup panjang.
Mengapa peramal tetap laris di tengah masyarakat yang mengaku beriman? Jawabannya bisa jadi terletak pada krisis ketauhidan dan kemiskinan spiritual. Banyak yang rajin salat, tetapi masih percaya pada “angka keramat”, mimpi-mimpi pertanda, hingga benda jimat untuk keberuntungan. Inilah bentuk sinkretisme kepercayaan yang tak terselesaikan.
Baca juga: Ilmu Fikih: Ketika Campur Tangan Kekuasaan Membentuk Hukum Islam Nabi Muhammad ﷺ sendiri telah menyebut jenis-jenis praktik ramalan dalam sabdanya:
العيافة، والطرق، والطيرة من الجبت‘Iyafah (ramal dengan burung), thuruq (menebak lewat garis), dan tathayyur (meramal nasib sial-untung) adalah bagian dari jibt (sihir) – HR. Abu Dawud.
Antara Kebutuhan dan KetidaktahuanDi balik fenomena ini, terdapat kecenderungan manusia mencari kepastian dalam dunia yang serba tak pasti. Kecemasan tentang jodoh, pekerjaan, dan nasib anak-anak sering membuat seseorang tergelincir pada jalan pintas batiniah. Mereka merasa mendapatkan ketenangan, padahal sedang membuka pintu kekufuran.
Menurut para ulama, pelanggaran terhadap larangan ini bertingkat. Mendatangi peramal saja sudah dosa besar. Mempercayai sebagian omongannya, lebih berat. Dan meyakini bahwa mereka tahu perkara gaib, maka itu bisa membatalkan keislaman seseorang. Imam An-Nawawi menyebutkan, kufur di sini bermakna kufur besar (kufrun akbar) jika ia benar-benar meyakini sang peramal tahu yang ghaib tanpa wahyu.
Baca juga: Ilmu Fikih: Ketika Pertimbangan Kepentingan Umum Didahulukan Solusinya bukan sekadar pelarangan, tetapi penguatan fondasi akidah umat. Bahwa segala ketidakpastian hidup hanya bisa ditundukkan melalui tawakal dan doa, bukan dengan menebak-nebak takdir.
Nabi ﷺ mengajarkan agar setiap Muslim memelihara benteng spiritual melalui doa, ibadah, dan keyakinan teguh. Ketika iman sudah tertanam, maka ucapan-ucapan peramal tak lagi punya tempat.
Akhirnya, larangan ini bukan semata-mata membatasi, melainkan menyelamatkan. Karena ketika manusia berhenti mencari kepastian dari selain Allah, di situlah dia sedang menegakkan keimanan yang sejati.
وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ“
Dan pada sisi-Nya kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’am: 59)
(mif)