Inflasi Turki Meledak hingga 79,6 Persen, Tertinggi Sejak 1998
Garry Talentedo Kesawa
Kamis, 04 Agustus 2022 - 08:05 WIB
Ilustrasi bendera negara Turki. (Foto: Langit7.id/iStock)
Laju inflasi di Turki meledak mencapai 79,6 persen pada bulan Juli 2022 secara tahunan year-on-year (yoy). Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 24 tahun terakhir atau 1998.
Badan Statistik Turki atau Turkish Statistical Institute pada Rabu (3/8/2022), melaporkan peningkatan inflasi tersebut lebih tinggi dari bulan Juni 2022 sebesar 78,62 persen. Sementara inflasi Juli 2022 secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 2,37 persen, menurun dibandingkan bulan sebelumnya 4,95 persen.
Baca Juga:Inflasi Indonesia Meningkat, Sri Mulyani: Masih Lebih Moderat
Pemicu utama melonjaknya inflasi di Turki adalah harga makanan dan energi yang terus melambung tinggi. Dengan rincian masing-masing komoditas sebesar 129,3 persen dan 94,85 persen.
Untuk diketahui, bobot makanan dan minuman non-alkohol mencapai 23,7 persen dalam inflasi Turki. Disusul perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya sebesar 15,9 persen. Faktor lainnya ialah tingginya harga minyak mentah dan komoditas energi lain.
Baca Juga:Berkaca dari Krisis 1997, Pemerintah Diminta Waspadai Rayuan IMF
Melansir AFP, melonjaknya inflasi di Turki disebut-sebut karena eksperiman ekonomi yang dilakukan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada September tahun lalu. Saat itu, Erdogan mencoba menurunkan harga konsumen dengan memangkas suku bunga.
Badan Statistik Turki atau Turkish Statistical Institute pada Rabu (3/8/2022), melaporkan peningkatan inflasi tersebut lebih tinggi dari bulan Juni 2022 sebesar 78,62 persen. Sementara inflasi Juli 2022 secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 2,37 persen, menurun dibandingkan bulan sebelumnya 4,95 persen.
Baca Juga:Inflasi Indonesia Meningkat, Sri Mulyani: Masih Lebih Moderat
Pemicu utama melonjaknya inflasi di Turki adalah harga makanan dan energi yang terus melambung tinggi. Dengan rincian masing-masing komoditas sebesar 129,3 persen dan 94,85 persen.
Untuk diketahui, bobot makanan dan minuman non-alkohol mencapai 23,7 persen dalam inflasi Turki. Disusul perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya sebesar 15,9 persen. Faktor lainnya ialah tingginya harga minyak mentah dan komoditas energi lain.
Baca Juga:Berkaca dari Krisis 1997, Pemerintah Diminta Waspadai Rayuan IMF
Melansir AFP, melonjaknya inflasi di Turki disebut-sebut karena eksperiman ekonomi yang dilakukan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada September tahun lalu. Saat itu, Erdogan mencoba menurunkan harga konsumen dengan memangkas suku bunga.