LANGIT7.ID, Jakarta - Anggota
Komisi XI DPR, Kamrussamad mengingatkan kepada pemerintah untuk tidak terbuai sepenuhnya dengan saran yang diberikan Badan Moneter Dunia atau International Monetary Fund (IMF). Hal tersebut menanggapi pertemuan Presiden
Joko Widodo (Jokowi) dengan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva di Istana Kepresidenan Bogor, Ahad (17/7).
Kamrussamad mengatakan jika rayuan IMF pernah menjerumuskan Indonesia, tepatnya saat krisis 1997 era Presiden Soeharto. Saat itu, paket penyelamatan IMF tertuang dalam Letter of Intent (Lol) yang ditandatangani dua kali oleh Soeharto.
Baca Juga: DPR Ingatkan Menkeu Sri Mulyani Tak Anggap Remeh Resesi Ekonomi
"IMF sudah terlalu sering menyebut dunia dalam ketidakpastian. Krisis akan terjadi dan seakan-akan ketakutan sengaja diciptakan untuk menjadi pintu masuk resep-resep IMF," kata Kamrussamad dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (19/7/2022).
Berkaca dari krisis 1997, Kamrussamad mengatakan resep yang diberikan IMF terbukti tidak manjur mengatasi permasalahan ekonomi Indonesia. Saran dari IMF kala itu justru membuat
perekonomian Indonesia semakin terpuruk.
"Resep IMF tidak menyelesaikan apapun. Kondisi Indonesia malah semakin buruk. Rupiah semakin terpuruk. 16 Bank dilikuidasi. Rush terjadi di mana-mana," ujarnya.
Saat itu, lanjut Kamrussamad, pemerintah tidak memiliki dana Rp600 triliun sebagai dana talangan perbankan yang mengalami
negative spread. Sedangkan IMF meresepkan kebijakan obligasi rekap (OR), di mana pemerintah hanya membayar bunga 10 persen.
Baca Juga: Inflasi AS Melambung Tinggi, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia"Mereka memberi saran dengan istilah rekayasa akuntansi. Pemerintah tidak punya tunai Rp600 triliun sebagai dana talangan, tapi punya kemampuan bayar bunga 10 persen. Akibatnya, inilah yang membebani
APBN puluhan tahun," ungkapnya.
Atas hal tersebut, Kamrussamad meminta Presiden Jokowi untuk tidak mudah percaya dengan resep yang diberikan IMF. Sebaliknya, dia meminta pemerintah fokus mengantisipasi masalah inflasi.
"Presiden Jokowi jangan begitu saja percaya dengan IMF. Karena bukan tidak mungkin ada skenario yang diciptakan untuk menutupi ketidakmampuan IMF dalam menangani tantangan ekonomi global. Atau, perlu diantisipasi adanya skenario inflasi tinggi, agar resep-resep IMF bisa dijalankan oleh negara-negara yang terkena krisis," tuturnya.
Baca Juga:
Ini Indikasi Negara Disebut Bangkrut, Apa Kabar Indonesia?
Inflasi Mengancam Indonesia, Ekonom Minta Pemerintah Edukasi Masyarakat(asf)