LANGIT7.ID, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani mengingatkan risiko
inflasi yang bakal dihadapi Indonesia. Untuk mengantisipasinya, pemerintah perlu melakukan sosialisasi agar masyarakat tidak kaget dengan lonjakan harga.
Aviliani menjelaskan, Indonesia mau tidak mau akan menghadapi inflasi yang lebih tinggi dari saat ini. Inflasi terjadi karena dinamika situasi global, terutama dampak perang Rusia dengan Ukraina serta kenaikan harga
minyak mentah dunia. "Ada persoalan baru (setelah pandemi Covid-19) yaitu
supply shock, di mana antara negara terjadi perubahan dalam men-
delivery barang imbas perang Rusia dengan Ukraina," katanya dalam diskusi virtual yang diikuti Langit7.id, Selasa (12/7/2022).
Baca Juga: Pengamat Nilai Indonesia Tak Bernasib seperti Sri Lanka, Ini AlasannyaMenurut Aviliani, banyak negara mulai memperketat distribusi ekspor mengantisipasi perang jangka panjang. Di sisi lain, upaya intervensi harga kebutuhan pokok dalam negeri tak akan banyak berkontribusi. "
Supply shock tidak bisa membuat kita menurunkan harga karena otomatis suplai ke dalam negeri akan terganggu," lanjutnya.
Juni lalu, BPS mencatat inflasi mencapai 4,35 persen (
year on year). Sementara inflasi inti 2,36 persen yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan pangan.
Avilani mengatakan, optimisme inflasi sekarang ini disebabkan berbagai subsidi barang oleh pemerintah, terutama di sektor
energi. Namun, Aviliani menilai pemerintah tak bisa terus menerus mendorong subsidi.
Baca Juga: Ekonom Nilai BPR dan BPRS Diperlakukan Diskriminatif"Kalau tak disubsidi pasti inflasi naik. Tapi seberapa jauh pemerintah bisa menyubsidi
BBM? Saya rasa paling jauh akhir tahun, tahun depan tak mungkin karena uang Rp500 triliun hanya untuk subsidi saja," ujarnya.
Menurut Aviliani, pemerintah perlu menggencarkan kondisi
perekonomian agar masyarakat dapat melakukan antisipasi. Masyarakat perlu mamahami dampak situasi global terhadap perekonomian dalam negeri.
"Karena ini sudah terjadi di berbagai belahan dunia. Amerika inflasinya sudah 8 persen, kita masih bisa jaga di angka 3,5 mungkin sampai nanti 4,5 persen. Jadi
awarness masyarakat sangat penting," tuturnya.
Baca Juga:
Cara Mengatasi Inflasi dengan Kekayaan, Simak 5 Tips Ini
Pakar Sebut Kenaikan Tarif Listrik Picu Inflasi(asf)