LANGIT7, Jakarta - Sri Langka menjadi negara yang dinyatakan bangkrut setelah gagal membayar utang sebesar 51 miliar dolar AS. Senafas sejalan, krisis energi dan kenaikan harga melanda perekonomian negara berjulukan Mutiara Samudera Hindia itu.
Sri Lanka diberi tempo 30 hari untuk membayar 78 juta dolar AS (£ 63 juta) demi menutupi bunga yang jatuh tempo. Namun, Gubernur Bank Sentral, P Nandalal Weerasinghe mengaku tidak dapat memenuhinya.
Baca Juga: Beratnya Kehidupan Muslim Sri Lanka, Bertahan di Tengah Diskriminasi dan IslamofobiaBank Dunia telah menyetujui bailout Sri Lanka sebesar 600 juta dolar AS. Pemerintah Sri Lanka juga telah melakukan pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) tentang kemungkinan pinjaman sebesar 3 miliar dolar AS.
Apa yang terjadi pada Sri Lanka saat ini disebut dengan sovereign default, yakni kegagalan atau penolakan pemerintah sebuah negara berdaulat untuk membayar penuh utang-utangnya. Bangkrut adalah efek istilah lain untuk menggambarkan kondisi perekonomian nasional yang penuh krisis.
Ada sejumlah kekuatan ekonomi yang dapat membuat ekonomi suatu negara mana pun jatuh. Namun, kebijakan moneter yang dikelola dengan buruk biasanya menjadi faktor dominan.
Baca Juga: Parlemen Sri Lanka Tetapkan Pemilihan Presiden Baru pada 20 Juli 2022Dalam kasus Sri Lanka, para ekonom menilai negara ini terlalu fokus pada kebutuhan pasar domestik sejak 2009. Dampaknya, pendapatannya dari ekspor ke negara lain tetap rendah, sementara tagihan impor terus meningkat.
Neraca impor Sri Lanka belakangan senilai 3 miliar dolar AS lebih besar daripada pendapatan ekspor setiap tahun, dan itulah sebabnya negara tersebut kehabisan mata uang asing. Pada akhir 2019, Sri Lanka memiliki cadangan mata uang asing senilai 7,6 miliar dolar AS, lalu turun menjadi sekitar 250 juta dolar AS.
Sektor pariwisata mancanegara yang biasa menjadi sumber devisa tersendat akibat pandemi Covid-19 dan alasan keamanan setelah serangan teror pada 2019. Mata uangnya telah runtuh sebesar 80%, membuat impor lebih mahal dan memperburuk inflasi.
Baca Juga: Naik Pesawat Militer, Presiden Sri Lanka Kabur ke MaladewaHasilnya, seperti yang diwartakan, Sri Lanka mengalami krisis ekonomi di berbagai sektor. Impor yang tersendat karena tak ada uang membuat masyarakat sulit mengakses bahan bakar, membeli susu, gas memasak, bahkan hingga kertas toilet.
Korupsi politik juga menjadi masalah serius. Anit Mukherjee, seorang peneliti kebijakan dan ekonom di Center for Global Development di Washington, mengatakan bantuan dari IMF atau Bank Dunia harus mendapat pengawasan ketat agar tidak salah urus.
Baca Juga:
Daftar Negara Terancam Bangkrut, Argentina hingga Myanmar
4 Negara Ini Pernah Bangkrut karena Gagal Bayar Utang
Pengamat Nilai Indonesia Tak Bernasib seperti Sri Lanka, Ini Alasannya(asf)