LANGIT7.ID, Jakarta -
Sri Lanka dirundung krisis ekonomi akibat gagal bayar utang luar negeri sebesar USD51 miliar atau Rp754,8 triliun (kurs Rp 14.800). Saat ini, kondisi negara berpenduduk 22 juta orang itu semakin kacau karena kekecewaannya terhadap pemerintahan Presiden
Gotabaya Rajapaksa, yang dianggap menjadi penyebab kebangkrutan Sri Lanka.
Namun, Sri Lanka bukan negara pertama yang mengalami
krisis ekonomi lalu gagal bayar utang. Berikut negara-negara yang mengalami kebangkrutan, dihimpun Langit7.id dari berbagai sumber, Senin (11/7/2022).
Baca Juga: Timeline Kebangkrutan Sri Lanka Akibat Gagal Bayar Utang1. YunaniTepat sebelum Sri Lanka, Yunani merupakan negara bangkrut terbaru karena gagal membayar utang sebesar UDD138 miliar dollar AS (kini Rp2 kuadriliun) pada 2012. Sebagai upaya menangani masalah ini, para pejabat Eropa ramai-ramai mencari solusi. Uni Eropa pada 2016 mengucurkan dana EUR7,5 miliar (kini Rp117 triliun) untuk membayar utang.
Pemerintah Yunani juga memotong anggaran dan menaikkan pajak yang mengakibatkan lonjakan pengangguran dan kemiskinan. Yunani keluar dari kebangkrutan setelah mendapat tiga
bailout atau bantuan keuangan berturut-turut dengan total sekitar EUR260 miliar (kini Rp4 kuadriliun) selama 2010-2018 dari Dana Moneter Internasional (IMF). Pada Mei 2022, Yunani berhasil melunasi utangnya kepada IMF.
2. IslandiaTak hanya Yunani, Islandia juga pernah mengalami kebangkrutan pada 2008 akibat utang 85 miliar dollar AS (kini Rp1,25 kuadriliun). Hal ini bermula dari deregulasi sistem perbankan pada 2001.
Sistem perbankan Islandia yang tumbuh pesat hingga 2008 memiliki utang setara 10 kali PDB (Produk Domestik Bruto) negara itu. Sebanyak tiga bank besar dilaporkan kolaps.
Namun, Islandia berhasil keluar dari kebangkrutan setelah mendapat bailout IMF pada 2009. Pemerintah turut menaikkan pajak, memotong anggaran pendidikan dan kesehatan, serta memangkas gaji sektor publik. Selanjutnya, perekonomian Islandia berangsur membaik dan stabil hingga pda 2014 ekonominya 1 persen lebih besar.
Baca Juga: Krisis Sri Lanka Makin Parah, Kendaraan Pribadi Dilarang Isi Bensin3. ArgentinaNegara yang disebut Negeri Tango ini sempat mengalami krisis ekonomi pada 2001 dengan utang USD145 miliar (kini Rp2,14 kuadriliun).
Penyebab kebangkrutan tersebut karena kebijakan mematok peso ke dollar Amerika Serikat, utang publik yang tidak terkendali, dan korupsi merajalela. Pada 2001 angka pengangguran melebihi 20 persen dan Argentina dinyatakan gagal membayar utang USD10.
Restrukturisasi utang Argentina dimulai pada Januari 2005 dari pemegang obligasi terkena dampak. Mayoritas pasar obligasi berikutnya didasarkan pada obligasi terkait PDB dan investor, baik asing maupun domestik.
Selanjutnya pada 2001-2006, Venezuela menjadi pelunas tunggal terbesar utang Argentina. Utang Argentina dibayar lunas saat masa pemerintahan presiden Mauricio Macri pada 2015-2019.
4. RusiaSiapa sangka, Rusia pernah mengalami kebangkrutan pada 1998 dengan utang USD17 miliar (kini Rp251,44 triliun) karena dampak dari krisis keuangan Asia dan turunnya permintaan minyak. Pada 1990 terjadi krisis rubel di Rusia.
Pasar saham Rusia kehilangan 75 persen nilainya dan inflasi mencapai 80 persen karena investor meninggalkan pasar. Ekonomi Rusia juga mengalami kontraksi 5,3 persen pada 1998 karena pengangguran mencapai 13 persen.
Upaya Rusia keluar dari daftar negara bangkrut dimulai dengan restrukturisasi utang pada 1999 dan 2000. Pada Juli 1999 IMF sepakat menyuntikkan dana 4,5 miliar dollar AS (kini Rp66,52 triliun) untuk membawa Rusia kembali ke akses pasar keuangan internasional.
Baca Juga:
Sri Lanka Bangkrut, Ratusan Warga Antre BBM Berjam-jam di SPBU
Sempat Tutup Haji karena Krisis Ekonomi, Sri Lanka Kini Izinkan Haji dengan Syarat(asf)