LANGIT7.ID, Colombo - Pada akhir Mei lalu, pemerintah Sri Lanka memutuskan untuk tidak mengirim
jemaah haji tahun ini. Departemen Agama dan Kebudayaan Muslim mengatakan, keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan krisis ekonomi di negara tersebut.
Penangguhan dilakukan karena mahalnya biaya pengiriman jemaah ke Makkah. Biaya pemberangkatan diperkirakan mencapai 10 juta dolar AS. Angka itu terlalu tinggi ditanggung negara ketika sedang berjuang dengan penurunan keuangan terburuk sejak kemerdekaan pada 1938. Sri Lanka juga gagal membayar utang luar Negeri.
Baca Juga: Hikmah Krisis Sri Lanka, Dampak Penumpukan Utang Gagal Bayar
Namun, penangguhan itu dicabut secara kondisional oleh Menteri Agama Vidura Wickremanayake pada Selasa (7/6/2022). Wickremanayake mengeluarkan keputusan setelah berkonsultasi dengan anggota parlemen Muslim dan Menteri Lingkungan Naseer Ahmed, yang juga mengawasi urusan Timur Tengah.
“Atas permintaan kelompok muslim yang dipimpin oleh Menteri Ahmad, kami telah memutuskan untuk memenuhi kuota jemaah dengan meminta mereka Membayar paket haji mereka dalam mata uang asing, yang tidak akan mempengaruhi perekonomian Nasional kita,” kata Wickremanayake, dikutip Arab News, Sabtu (11/6/2022).
Wickremanayake telah meminta bank sentral untuk menyusun modalitas pelaksanaan haji. Bank sentral akan membantu
jemaah haji menemukan jalan mudah berangkat dan pulang dari Mekkah tahun ini.
Baca Juga: Kain Ihram Simbol Persamaan Derajat Manusia di Depan Allah SWT
Sri Lanka mempunyai populasi muslim hampir 10 persen dari 22 juta penduduk negara itu. Mayoritas penduduk Sri Lanka beragama Buddha. Tahun ini, negara itu telah mengalokasikan kuota 1.585 jamaah untuk melakukan haji, setelah Arab Saudi mengumumkan akan mengizinkan 1 juta musim asing dan domestik melakukan haji.
(jqf)