LANGIT7.ID, Jakarta - Sri Lanka mengalami
krisis ekonomi yang mendalam. Negara di Asia Selatan itu gagal membayar utang luar negeri (ULN) USD51 miliar atau Rp754,8 triliun (kurs Rp 14.800) sehingga dinyatakan bangkrut.
Atas hal tersebut,
Sri Lanka mengalami kekurangan makanan, bahan bakar minyak (BBM), dan kebutuhan pokok lainnya. Ratusan ribu pengendara saat ini menghabiskan waktu berjam-jam menunggu bensin dan solar.
Baca Juga: Sempat Tutup Haji karena Krisis Ekonomi, Sri Lanka Kini Izinkan Haji dengan SyaratMenteri Energi Sri Lanka, Kanchana Wijesekera meminta maaf atas kekurangan
BBM yang memburuk dalam krisis ini. Wijesekera mengatakan kargo minyak yang dijadwalkan tiba pekan lalu belum tiba.
"Pengiriman bensin, solar, dan minyak mentah yang dijadwalkan awal pekan ini dan minggu depan tidak akan terpenuhi tepat waktu karena alasan perbankan dan logistik," ujar Wijesekera, mengutip dari CNA, Senin (27/6/2022).
Krisis Sri Lanka memburuk karena kekurangan devisa parah untuk membiayai impor barang paling penting, termasuk makanan, bahan bakar, hingga obat-obatan. Negara berpenduduk 22 juta orang itu kemudian meminta bantuan internasional.
Baca Juga: Krisis Ekonomi, 1.585 Jemaah Sri Lanka Gagal Berangkat HajiSelain itu, Ceylon Petroleum Corporation (CPC) yang dikelola negara juga tak dapat memastikan kapan pasokan minyak berada di pulau itu untuk mengatasi krisis Sri Lanka yang kehabisan bensin. CPC juga menutup satu-satunya kilang karena kekurangan minyak mentah.
Stok BBM langka yang tersisa akan didistribusikan melalui beberapa SPBU. Kendaraan seperti Angkutan umum hingga pembangkit listrik akan diprioritaskan.
Krisis itu menimbulkan kesengsaraan yang meluas dan terburuk sejak merdeka dari Inggris pada 1948. Beberapa rumah sakit di seluruh wilayah Sri Lanka juga melaporkan penurunan tajam kehadiran staf medis karena kehabisan bensin.
Baca Juga:
Hikmah Krisis Sri Lanka, Dampak Penumpukan Utang Gagal Bayar
Sempat Bangkrut, PO Haryanto Kini Menguasai Bisnis Transportasi(asf)