LANGIT7.ID - , Jakarta - Sebanyak 1.585 calon jemaah haji Sri Lanka gagal berangkat ke
Tanah Suci tahun ini karena krisis ekonomi. Penyelenggara haji Sri Lanka terpaksa tak memberangkatkan jemaah karena negara tengah mengalami
krisis ekonomi terberat sepanjang sejarah.
Meski ada pengurangan kuota
jemaah haji Sri Lanka tahun ini, namun biaya pemberangkatkan masih terlalu tinggi untuk ditanggung negara.
Baca juga: Kenaikan Biaya Haji Tak Dibebankan ke Jemaah, MPR: Ini Patut Diapresiasi“Ketika melalui situasi yang berlaku dan penderitaan yang dialami orang-orang di Ibu Lanka kami, anggota kedua asosiasi memutuskan untuk mengorbankan haji tahun ini,” kata Asosiasi Operator Tur Haji Semua Ceylon dan Asosiasi Operator Tur Haji Sri Lanka dalam sebuah surat kepada Departemen Agama Islam negara itu.
Organisasi-organisasi tersebut merupakan operator haji berlisensi pemerintah — satu-satunya penyelenggara tur yang tersedia untuk calon peziarah.
Presiden Asosiasi Operator Tur Haji Rizmi Reyal mengatakan bahwa keputusan operator bersuara bulat karena krisis dolar parah yang dihadapi negara.
Ekonomi Sri Lanka sedang dalam kesulitan. Awal bulan ini,
kementerian keuangan memperkirakan cadangan devisa yang dapat digunakan kurang dari 50 juta dolar Amerika Serikat. Negara ini telah gagal membayar utangnya setelah melewatkan tenggat waktu pembayaran utang luar negeri.
“Seluruh operasional penyelenggaraan haji Sri Lanka akan menelan biaya sekitar 10 juta dolar Amerika Serikat, jumlah yang besar dibandingkan dengan situasi ekonomi negara saat ini,” Ahkam Uwais, ketua Komite Haji Nasional di bawah Departemen Urusan Agama Muslim Sri Lanka, seperti dikutip dari Arab News, Kamis (2/6/2022).
Baca juga: Pemuda asal Magelang Ini Berangkat Haji ke Tanah Suci Naik Sepeda“Keputusan untuk membatalkan haji tahun ini adalah sikap murah hati oleh anggota komunitas Muslim untuk mengorbankan haji mereka demi negara,” katanya.
Saheed M. Rismy, presiden All-Ceylon Young Men’s Muslim Association, mengatakan keputusan komunitas Muslim adalah bentuk solidaritas dengan orang lain selama masa-masa sulit.
(est)