LANGIT7.ID, Jakarta -
Sri Lanka terperosok dalam krisis ekonomi hingga mengalami kebangkrutan karena gagal bayar
utang luar negeri (ULN) sebesar USD51 miliar atau sekitar Rp754 triliun (kurs Rp 14.800). Akibatnya, negara di Asia Selatan itu mengalami kekurangan makanan, bahan bakar minyak (BBM) dan bahan pokok lainnya.
Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab
kebangkrutan Sri Lanka. Salah satunya saat berakhirnya 30 tahun perang saudara pada 2009.
Baca Juga: Dubes RI: Evakuasi WNI di Sri Lanka Belum Jadi Pilihan UtamaPada saat itu, Sri Lanka memilih fokus kepada pasar domestik ketimbang mengekspor ke luar negeri. Akibatnya, pendapatan ekspor rendah hingga tangihan impor bertambah. Berikut
timeline krisis ekonomi Sri Lanka hingga bangkrut, melansir dari Al-Jazeera, Senin (27/6/2022).
1. Rumah Presiden Terancam: 31 Maret 2022Ratusan pengunjuk rasa yang dikerahkan oleh aktivis media sosial, menyerbu rumah Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa. Dalam upaya itu, massa menuntut pengunduran diri sang Presiden karena dituding sebagai biang kerok kesengsaraan masyarakat di Sri Lanka.
2. Keadaan Negara Darurat: 1 April 2022Semakin hari, protes masyarakat kian menyebar hingga Presiden Rajapaksa mengumumkan keadaan darurat. Dirinya memberikan kekuatan besar kepada pasukan keamanan untuk menangkap dan menahan tersangka yang membuat kerusuhan pada saat protes.
Pada 2 April 2022, Sri Lanka mengumumkan lockdown 36 jam terhitung sejak sore (2/4) hingga (4/4) pagi waktu setempat. Pemerintah juga mengerahkan pasukan untuk memadampak protes.
3. Kabinet Negara Mengundurkan Diri: 3 April 2022Seluruh kabinet Sri Lanka mengundurkan diri, termasuk Perdana Menteri dan Mantan Presiden Mahinda rajapaksa pada 9 Mei 2022, yang juga merupakan kakak dari Presiden Gotabaya Rajapaksa. Demi meredam kericuhan, pemerintah memblokir seluruh media sosial termasuk Twitter dan Facebook.
Baca Juga: Sri Lanka Bangkrut, Ratusan Warga Antre BBM Berjam-jam di SPBU4. Permohonan Restrukturisasi Utang: 7 April 2022Rajapaksa menunjuk panel ahli untuk restrukturisasi pembayaran utang demi mengatasi krisis keuangan yang memburuk di Sri Lanka.
5. Kenaikan Suku Bunga Tertinggi: 8 April 2022Bank sentral Sri Lanka melaporkan kenaikan suku bunga dengan rekor 700 basis poin (bps) menjadi 14,5 persen atau rekor tertinggi. Nilai tukar disebut menjadi yang terburuk di dunia, melebihi rubel Rusia yang terjun setelah invasi dilancarkan.
6. Kekurangan Banyak Bahan Pokok: 10 April 2022Akibat krisis, Sri Lanka mengalami kekurangan bahan pokok, termasuk obat-obatan, makanan, BBM hingga gas untuk memasak. Ratusan warga mengantre di sejumlah toko hingga SPBU untuk membeli kebutuhan tersebut.
7. Gagal Bayar Utang Luar Negeri: 12 April 2022Setelah mengalami banyak krisis, Sri Lanka mengumumkan gagal membayar utang luar negeri hingga USD51 miliar atau sekitar Rp754,8 triliun.
8. Warga Sri Lanka Meninggalkan Negaranya: Mei 2022Di tengah peliknya situasi Sri Lanka, ratusan ribu warga berbondong-bondong meinggalkan negaranya. Dalam lima bulan pertama di 2022, pihak imigrasi mengeluarkan sekitar 288 ribu paspor.
Departemen Imigrasi dan Emigrasi dipenuhi orang yang mengantre berjam-jam untuk foto dan sidik jari paspor. Sebanyak 160 anggota staf kelelahan karena memenuhi permintaan paspor.
Baca Juga:
Sempat Tutup Haji karena Krisis Ekonomi, Sri Lanka Kini Izinkan Haji dengan Syarat
Krisis Ekonomi, 1.585 Jemaah Sri Lanka Gagal Berangkat Haji(asf)