LANGIT7.ID, Jakarta -
Krisis ekonomi yang melanda Sri Lanka menjadi yang terburuk bagi negara tersebut sejak kemerdekaan dari Inggris pada 1948. Keadaan ini semakin memburuk lantaran dana talangan dari Dana Moneter Indonesia (IMF) juga terhambat karena krisis keuangan negara.
Namun,
Sri Lanka bukan satu-satunya negara yang berada dalam masalah serius karena harga makanan, bahan bakar, dan bahan pokok lainnya melonjak akibat perang Rusia-Ukraina. Nasib serupa juga dialami pada
perekonomian negara lainnya, mulai dari Laos, Pakistan hingga Venezuela dan Guinea.
Baca Juga: Pengamat Nilai Indonesia Tak Bernasib seperti Sri Lanka, Ini AlasannyaMenurut laporan Kelompok Tanggap Krisis Global dari Sekretaris Jenderal PBB, 1,6 miliar orang di 94 negara menghadapi setidaknya satu dimensi krisis pangan, energi dan sistem keuangan. Penyebab setiap negara yang berpotensi mengalami krisis ekonomi bervariasi, mulai dari melonjaknya biaya untuk makanan dan bahan bakar, hingga kondisi pandemi Covid-19 serta perang Rusia melawan Ukraina.
Akibatnya, Bank Dunia memperkirakan bahwa pendapatan per kapita di negara berkembang akan menjadi 5 persen di bawah tingkat pra-pandemi tahun ini. Berikut beberapa berpotensi bangkrut seperti Sri Lanka, melansir dari APNews, Selasa (12/7/2022).
1. AfghanistanAfghanistan terperosok ke dalam krisis ekonomi yang mengerikan sejak Taliban mengambil kendali saat Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya menarik pasukan mereka pada 2021. Bantuan asing yang sudah lama menjadi andalan pun terhenti.
Pemerintahan Biden membekukan USD7 miliar cadangan mata uang asing Afghanistan yang disimpan di Amerika Serikat. Sekitar setengah dari 39 juta penduduk Afghanistan menghadapi tingkat kerawanan pangan. Derita Afghanistan tak berheti sampai di situ, sebuah gempa bumi baru-baru ini menewaskan lebih dari 1.000 orang.
2. ArgentinaBank sentralnya Argentina dilaporkan kehabisan cadangan devisa karena mata uangnya melemah. Inflasi diperkirakan akan melebihi 70 persen pada 2022.
Jutaan orang Argentina bertahan hidup sebagian besar berkat dapur umum dan program kesejahteraan negara. Banyak di antaranya disalurkan melalui gerakan sosial yang kuat secara politik terkait dengan partai yang berkuasa. Namun, Argentina baru-baru ini membuat kesepakatan dengan IMF untuk merestrukturisasi utang senilai USD44 miliar.
3. MesirSiapa sangka Mesir ternyata menjadi salah satu negara yang terancam mengalami kebangkrutan. Tingkat inflasi Mesir melonjak hampir 15 persen pada April 2022, sehingga menyebabkan kemiskinan bagi hampir sepertiga dari 103 juta penduduknya.
Bank sentral menaikkan suku bunga untuk mengekang inflasi dan mendevaluasi mata uang. Namun, hal ini justru menambah kesulitan dalam membayar utang luar negeri Mesir yang cukup besar.
Negara tetangga, yakni Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab telah menjanjikan USD22 miliar dalam bentuk deposito dan investasi langsung sebagai bantuan.
4. LaosSalah satu negara kecil dengan sebagian besar daratan ini memiliki ekonomi dengan pertumbuhan tercepat sebelum pandemi Covid-19 melanda. Namun, tingkat utangnya melonjak seperti Sri Lanka.
Keuangan pemerintah negara pun kian lemah. Menurut Bank Dunia, cadangan devisa Laos sama dengan kurang dari dua bulan impor. Depresiasi 30 persen dalam mata uang Laos, kip, makin memperburuk. Akibatnya, kenaikan harga hingga pengangguran makin meningkat.
Baca Juga: 4 Negara Ini Pernah Bangkrut karena Gagal Bayar Utang5. LebanonTak hanya Laos, Lebanon juga nyaris senasib dengan Sri Lanka. Mulai dari keruntuhan mata uang, kekurangan uang, tingkat inflasi yang mendekik, kelaparan yang meningkat, antrean yang mengular untuk bahan bakar, dan kelas menengah yang hancur.
Negara ini mengalami perang saudara yang panjang sehingga pemulihannya terhambat oleh disfungsi pemerintah dan serangan teror. Usulan pajak pada akhir 2019 memicu kemarahan masyarakat terhadap pemerintah.
Mata uang mulai tenggelam dan Lebanon gagal bayar senilai sekitar USD90 miliar pada saat itu, atau 170 persen dari PDB. Pada Juni 2021, dengan mata uang yang telah kehilangan hampir 90 persen nilainya, Bank Dunia mengatakan krisis tersebut menempati peringkat salah satu yang terburuk di dunia dalam lebih dari 150 tahun.
6. MyanmarPandemi Covid-19 dan ketidakstabilan politik mengancam kondisi ekonomi Myanmar, terutama setelah tentara merebut kekuasaan pada Februari 2021 dari pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi. Perekonomian mengalami kontraksi sebesar 18 persen pada 2021 dan diperkirakan hampir tidak tumbuh hingga 2022.
7. PakistanSeperti Sri Lanka, Pakistan juga melakukan pembicaraan mendesak dengan IMF, berharap untuk menghidupkan kembali paket dana talangan sebesar USD6 miliar yang ditunda setelah pemerintah Perdana Menteri Imran Khan digulingkan pada April 2022.
Melonjaknya harga minyak mentah mendorong naiknya harga bahan bakar dan biaya lainnya. Negara ini mengalami inflasi hingga lebih dari 21 persen.
Mata uang Pakistan, rupee, jatuh sekitar 30 persen terhadap dolar AS pada 2021. Untuk mendapatkan dukungan IMF, Perdana Menteri Shahbaz Sharif telah menaikkan harga bahan bakar, menghapuskan subsidi, hingga memberlakukan "pajak super" baru 10 persen pada industri-industri besar untuk membantu memperbaiki keuangan negara yang menipis.
8. ZimbabweInflasi di Zimbabwe melonjak hingga mencapai lebih dari 130 persen. Zimbabwe berjuang untuk menghasilkan arus masuk yang memadai dari dolar AS untuk ekonomi lokalnya yang telah terpukul oleh deindustrialisasi, korupsi, investasi rendah, ekspor rendah, dan utang tinggi.
Akibatnya, banyak warga yang terpaksa mengurangi makan karena mereka berjuang untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Baca Juga:
Timeline Kebangkrutan Sri Lanka Akibat Gagal Bayar Utang
Sri Lanka Bangkrut, Ratusan Warga Antre BBM Berjam-jam di SPBU(asf)