LANGIT7.ID, Jakarta - Laju inflasi di
Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni 2022 tercatat melonjak mencapai 9,1 persen secara tahunan atau
year on year (yoy). Lonjakan ini diperkirakan berdampak pada ekonomi Indonesia, salah satunya pelemahan terhadap
Rupiah.
Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Indonesia, Lionel Priyadi mengatakan obligasi di pasar dalam negeri masih menguat pada Rabu (13/7) lalu meskipun saham melemah. Dia memperkirakan pasar Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin di bulan ini.
Baca Juga: Inflasi AS Melonjak hingga 9,1 Persen, Ribuan Keluarga Antre Bantuan Makanan"Jika BI tidak mengambil respons yang cepat, nilai tukar rupiah akan berlanjut melemah. Ini berpotensi mencapai level Rp15.500 per dolar AS," kata Lionel dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (16/7/2022).
Lionel Priyadi menuturkan lonjakan
inflasi yang terjadi di AS menaikkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed bulan ini, dari sebelumnya 75 basis poin menjadi 100 basis poin. "Pasar juga memperkirakan puncak siklus kenaikan suku bunga The Fed akan terjadi November 2022 dari sebelumnya Februari 2023, berdasarkan Fedwatch CME Group," ujar Lionel.
Melihat perkembangan ekonomi tersebut, resesi di AS diperkirakan berlangsung lebih cepat, yaitu pada kuartal II/2022. Selain itu, imbas hasil US Treasury 10 tahun hanya turun tipis hampir 4 basis poin menjadi 2,93 persen.
Baca Juga: Inflasi Mengancam Indonesia, Ekonom Minta Pemerintah Edukasi MasyarakatInvestor di AS diperkirakan tengah mengalihkan strategi investasi mereka, dari shorting saham menjadi shorting komoditas dan membeli obligasi. Sementara itu, aksi jual saham oleh investor masih terus dilakukan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. "Kami memperkirakan pergerakan pasar negara berkembang dan Asia Tenggara akan tertinggal dari pasar AS setidaknya selama 1 kuartal," tuturnya.
Seperti diketahui, inflasi di Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni 2022 melonjak tajam dengan Indeks Harga Konsumen (CPI/IHK) 9,1 persen secara tahunan atau
year on year (yoy). Angka tersebut menjadi rekor tertinggi yang terjadi dalam 41 tahun terakhir.
Secara basis bulanan, IHK utama naik 1,3 persen sedangkan IHK inti naik 0,7 persen. Kenaikan utamanya disebabkan lantaran melambungnya harga bahan bakar mencapai US$ 5 per galon (sekitar 4,5 liter).
Baca Juga:
Pakar Sebut Kenaikan Tarif Listrik Picu Inflasi
The Fed Naikkan Suku Bunga hingga 75 Bps, Terbesar Sejak 1994(asf)