LANGIT7.ID, Jakarta - Bank Sentral Amerika Serikan (The Fed) menaikkan suhu bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps). Ini merupakan kenaikan suku bunga terbesar sejak 1994.
Dalam pernyataannya, The Fed beralasan kenaikan ini dipicu data yang dirilis dalam beberapa hari terakhir menunjukkan inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda pelonggaran yang jelas.
"Inflasi tetap tinggi, mencerminkan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan terkait pandemi, harga energi yang lebih tinggi, dan tekanan harga yang lebih luas," kata The Fed dalam sebuah pernyataan dikutip, Kamis (16/6/2022).
Baca juga: Indef Sebut Inflasi Tinggi akibat Perang Rusia-UkrainaKomite Pasar Terbuka Federal (FOMC), badan pembuat kebijakan Fed, memutuskan untuk menaikkan kisaran target suku bunga dana federal menjadi 1,5 hingga 1,75 persen dan "mengantisipasi bahwa kenaikan berkelanjutan dalam kisaran target akan sesuai."
Dalam rapat tersebut, 10 anggota komite memilih keputusan itu dan satu orang menentangnya. Esther George, Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, lebih memilih kenaikan suku bunga setengah poin.
Proyeksi ekonomi triwulanan The Fed yang baru dirilis menunjukkan bahwa proyeksi median pejabat Fed dari inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) adalah 5,2 persen pada akhir tahun ini, naik dari 4,3 persen pada proyeksi Maret.
Proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa proyeksi median inflasi PCE akan turun menjadi 2,6 persen pada akhir 2023, dan kemudian menjadi 2,2 persen pada akhir 2024.
Baca juga: Keuntungan Menabung Emas, HF Gold Tawarkan Sistem Full SyariahSementara itu proyeksi median pejabat Fed tentang tingkat pengangguran adalah 3,7 persen pada akhir tahun ini, sedikit naik dari 3,6 persen saat ini. Proyeksi median tingkat pengangguran akan mencapai 3,9 persen pada 2023 dan 4,1 persen pada 2024.
(sof)