LANGIT7.ID-, Kuba - Didorong oleh keberhasilannya menggulingkan Nicolás Maduro dari Venezuela, kini Presiden AS Donald Trump semakin memperkuat cengkeraman ekonomi dan ancaman militernya dan Kuba menjadi target berikutnya.
Blokade minyak AS telah menjerumuskan Kuba ke dalam krisis kemanusiaan, memicu pemadaman listrik nasional yang telah memicu protes langka, menutup sekolah dan universitas, dan membuat rumah sakit berjuang untuk merawat pasien. Pesawat pengintai berputar-putar di atas langit Kuba.
Media AS melaporkan akhir pekan ini bahwa jaksa federal sedang menyiapkan dakwaan untuk Raúl Castro, mantan presiden berusia 94 tahun dan saudara laki-laki Fidel.
Trump dengan santai menyatakan, sambil membual tentang penculikan pemimpin Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, pada bulan Januari, bahwa "Kuba (target) selanjutnya". Sebagaimana melansir The Guardian, Senin (18/5/2026).
Serangan militer terhadap Havana, Ibu Kota Kuba, dinilai akan jauh lebih berisiko bagi AS dan akan membawa malapetaka bagi warga Kuba. Washington berharap ancaman dan kesulitan akan cukup.
Baca juga: Trump Klaim Perang Lawan Iran Tak Perlu Ijin Kongres: Presiden Amerika Yang Lain, Dulu Juga Gak Pernah Minta PersetujuanPBB pun bereaksi atas aksi AS terhadap Kuba. Para ahli PBB memperingatkan bahwa blokade tersebut melanggar hukum, membahayakan hak asasi manusia, dan mungkin sama dengan hukuman kolektif. Pemerintah mengakui pada hari Rabu bahwa bahan bakar minyak telah habis. Sektor pariwisata telah runtuh.
Serta perusahaan pertambangan Kanada, Sherritt, menarik diri dari usaha patungan dan beberapa negara telah membatalkan kontrak mereka untuk dokter Kuba yang menjadi sumber pendapatan vital bagi pulau itu, dan staf medis terlatih untuk negara lain. Havana mungkin berharap dapat bertahan hidup, tetapi Trump tidak sabar.
Pada hari Kamis pekan lalu, direktur CIA, John Ratcliffe, melakukan perjalanan ke Kuba untuk menuntut "perubahan mendasar".
AS menginginkan reformasi ekonomi, penutupan pos intelijen Tiongkok dan Rusia, dan dilaporkan juga penggulingan Presiden Miguel Díaz-Canel. Hal itu akan memperkuat pesan pemerintahan bahwa mereka mengendalikan Amerika.
Marco Rubio, menteri luar negeri dan anak dari imigran Kuba, telah lama mengambil sikap keras terhadap Havana, dan warga Kuba-Amerika merupakan bagian penting dari basis pendukung Trump. Pengurangan migrasi dimana sebelumnya angka imigrasi Kuba telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir, akan menyenangkan para pendukungnya.
Embargo AS yang berlangsung selama beberapa dekade bersifat menghukum. Namun, permusuhan warga Kuba terhadap AS tidak menghalangi kemarahan mereka terhadap para pemimpin mereka sendiri.
Baca juga: Raja Charles Berkunjung ke Amerika Serikat, Demi Perbaiki Hubungan Kedua NegaraPemimpin Kuba dianggap gagal mendorong reformasi ekonomi yang dijanjikan selama masa pelonggaran kebijakan Barack Obama, dan meluncurkan restrukturisasi mata uang pada tahun 2021 yang terbukti membawa bencana di tengah kelemahan domestik yang mendalam dan sanksi AS yang semakin intensif.
Hal itu menghancurkan kepercayaan banyak orang yang percaya pada janji dan pencapaian revolusi.
Wakil Perdana Menteri Kuba, Óscar Pérez-Oliva Fraga, mengatakan bahwa pihaknya terbuka untuk menjalin hubungan dengan perusahaan-perusahaan AS di sektor-sektor kunci.
AS mengatakan bahwa itu tidak cukup. Di samping para pendukung ideologi garis keras di tingkat atas, ada juga mereka yang memiliki kepentingan dalam mempertahankan status quo, terutama melalui Gaesa, konglomerat yang dikelola militer yang mengendalikan sebagian besar perekonomian. Namun, beberapa pihak menilai bahwa mereka akan lebih diuntungkan jika menjalin kesepakatan dengan AS.
Baca juga: Amerika Serikat dan Indonesia Membongkar Jaringan Phishing GlobalBertahun-tahun yang lalu, para pejabat organisasi Trump menjajaki opsi masa depan untuk lapangan golf dan hotel di Kuba. Ekspansi besar-besaran sektor swasta, penambangan, dan investasi asing dengan syarat-syarat Washington akan menguntungkan bisnis AS dan beberapa tokoh berpengaruh di Havana, alih-alih rakyat Kuba secara keseluruhan.
Populasi yang berpendidikan tinggi siap untuk perubahan yang akan memungkinkan generasi yang lebih tua untuk bermartabat, dan memberi generasi muda kesempatan. Sebaliknya, mereka tampaknya menghadapi keruntuhan yang berkelanjutan, kesepakatan yang kotor, atau yang terburuk yaitu serangan militer.
Trump sesumbar berbicara tentang "mengambil alih" Kuba. Tetapi Kuba adalah milik rakyat Kuba.
(lsi)