LANGIT7.ID, Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai lonjakan
inflasi di berbagai negara terjadi akibat
perang Rusia-Ukraina. Kondisi ini sangat berdampak kepada warga kelas bawah.
Pendiri dan Ekonom Senior Indef, Prof Didik J. Rachbini mengatakan, hal krusial yang harus dipecahkan untuk mengatasi hal ini adalah masalah geopolitik antara Rusia-Ukraina.
"Kita harus mengenali faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi, terutama inflasi. Meskipun tidak bisa mengatasi perang, tapi hambatannya harus diatasi," kata dia dalam Seminar Mengelola Inflasi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di Novotel Bali Nusa Dua, Rabu (15/6/2022).
Pasalnya, kata dia, inflasi terus menggerus pendapatan rakyat. Bahkan dapat memiskinkan rakyat yang paling bawah.
Baca Juga: Tingkat Inflasi Indonesia Masih Tergolong Rendah"Kalau inflasi tinggi, harga komoditas naik, daya beli masyarakat yang levelnya sama dengan upah minimum akan tergerus. Sehingga pengeluaran lebih banyak dan tidak memiliki tabungan, karena tergerus oleh inflasi," katanya.
Dampak itu juga bakal dirasakan para investor. Sebab inflasi meningkatkan suku bunga sehingga kegiatan investasi terhambat.
"Indef menyarankan agar adanya kerja sama global untuk mengatasi masalah ini, yakni masalah harga dan perang," katanya.
Pihaknya mengaku tidak ingin hanya berfokus pada ruang lingkup inflasi dan faktor ekonomi, tapi juga diplomasi pemerintah.
Dia menilai, Presidensi G20 merupakan ajang yang tepat bagi Indonesia untuk tidak sekadar menjadi event organizer, tapi juga membangun diplomasi dan menyelesaikan masalah global.
"Itu saran Indef, harapannya agar dunia lebih stabil dan kita hidup lebih baik ke depan. Sebab perang menjadi sumber petaka ekonomi, termasuk sosial politik global," ungkapnya.
(bal)