Imam Besar Istiqal: Moderasi Beragama Bukan Liberalisasi dan Westernisasi
Muhajirin
Selasa, 09 Agustus 2022 - 15:00 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar (foto: LANGIT7.ID/Muhajirin)
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, menegaskan, moderasi tidak bisa disejajarkan dengan liberalisasi maupun westernisasi. Moderasi dalam bahasa Al-Qur'an adalah Islam sebagai rahmatan lil-alamin.
"Moderasi itu tidak boleh identik dengan liberalisasi. Moderasi juga tidak bisa diidentikkan dengan westernisasi. Moderasi juga tidak bisa diartikan secara kebablasan," kata Prof Nasar kepada LANGIT7.ID, Senin (8/8/2022.
Baca Juga: Masjid Istiqlal Akan Gelar Upacara Kemerdekaan Lintas Agama
Dia memaparkan, moderasi beragama berarti mengembalikan Islam ke jati dirinya sendiri yang sejatinya sudah moderat. Banyak bukti dalil yang menjelaskan hal itu. Misal dalam ilmu sharaf, Islam sebagai agama moderat bisa dilihat dari rumus bahasa Arab tersebut.
Dalam ilmu sharaf, Islam termasuk masdar ruba'i (masdar dengan empat huruf). Dia berada di tengah-tengah antara mashdar fi'il tsulasi, ruba'i, khumasi, dan tsudasi. Islam diapit antara aslama dan istaslama.
“Nah, pemberian nama Islam oleh Al-Qur'an itu sudah moderat, karena di tengah-tengah. Bukan tiga (fi’il Tsulasi”, bukan enam (fi’il tsudasi),” kata Prof Umar.
"Moderasi itu tidak boleh identik dengan liberalisasi. Moderasi juga tidak bisa diidentikkan dengan westernisasi. Moderasi juga tidak bisa diartikan secara kebablasan," kata Prof Nasar kepada LANGIT7.ID, Senin (8/8/2022.
Baca Juga: Masjid Istiqlal Akan Gelar Upacara Kemerdekaan Lintas Agama
Dia memaparkan, moderasi beragama berarti mengembalikan Islam ke jati dirinya sendiri yang sejatinya sudah moderat. Banyak bukti dalil yang menjelaskan hal itu. Misal dalam ilmu sharaf, Islam sebagai agama moderat bisa dilihat dari rumus bahasa Arab tersebut.
Dalam ilmu sharaf, Islam termasuk masdar ruba'i (masdar dengan empat huruf). Dia berada di tengah-tengah antara mashdar fi'il tsulasi, ruba'i, khumasi, dan tsudasi. Islam diapit antara aslama dan istaslama.
“Nah, pemberian nama Islam oleh Al-Qur'an itu sudah moderat, karena di tengah-tengah. Bukan tiga (fi’il Tsulasi”, bukan enam (fi’il tsudasi),” kata Prof Umar.