LANGIT7.ID, Jakarta - Imam Besar
Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH.
Nasaruddin Umar, menegaskan, moderasi tidak bisa disejajarkan dengan liberalisasi maupun westernisasi. Moderasi dalam bahasa Al-Qur'an adalah Islam sebagai rahmatan lil-alamin.
"Moderasi itu tidak boleh identik dengan liberalisasi. Moderasi juga tidak bisa diidentikkan dengan westernisasi. Moderasi juga tidak bisa diartikan secara kebablasan," kata Prof Nasar kepada LANGIT7.ID, Senin (8/8/2022.
Baca Juga: Masjid Istiqlal Akan Gelar Upacara Kemerdekaan Lintas Agama
Dia memaparkan,
moderasi beragama berarti mengembalikan Islam ke jati dirinya sendiri yang sejatinya sudah moderat. Banyak bukti dalil yang menjelaskan hal itu. Misal dalam ilmu sharaf, Islam sebagai agama moderat bisa dilihat dari rumus bahasa Arab tersebut.
Dalam ilmu sharaf, Islam termasuk masdar
ruba'i (masdar dengan empat huruf). Dia berada di tengah-tengah antara mashdar
fi'il tsulasi,
ruba'i,
khumasi, dan
tsudasi. Islam diapit antara
aslama dan
istaslama.
“Nah, pemberian nama Islam oleh Al-Qur'an itu sudah moderat, karena di tengah-tengah. Bukan tiga (
fi’il Tsulasi”, bukan enam (
fi’il tsudasi),” kata Prof Umar.
Al-Qur’an menggunakan kata Islam sebagai agama yang sempurna, seperti ditegaskan dalam Surah Al-Maidah ayat ke-3. Allah tidak menggunakan kata
as-salam (
fi’il tsulasi) atau pun
istaslam (
tsudasi).
“Jadi Islam, itu di tengah-tengah. As-Salam itu
tsulasi, standarnya minim. bukan juga
istislam, bukan sempurna. Hanya malaikat yang bisa mencitakan
istislam. Tapi, kita juga tidak ingin menjadi liberal, hanya salam. Jadi, Islam dihimpit antara salam dan
istislam. Jadi, garis tengah itu sudah sesuai dengan namanya sendiri,” ujar Prof Nasar.
Baca Juga: Perkuat Moderasi Agama, Ulama Tunisia Bahas Kerjasama dengan Masjid Istiqlal
Kata ‘Islam’ dalam ilmu
sharaf saja menunjukkan Islam itu moderat. Itu bukan kebetulan, karena makna Islam dalam tatanan bahasa Arab sesuai dengan makna Al-Qur’an. Ini menjadi salah satu dalil bahwa Islam itu moderat. Belum lagi dalil-dalil yang bersumber dari teks Al-Qur’an dan hadits.
“Jadi, moderasi Islam itu mengembalikan (konsep) Islam kepada Islam pada masa Nabi, rahmatan lil-alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta),” ujar Prof Nasar.
(jqf)