PERSIS: Perpecahan Umat Islam di Indonesia Merupakan Warisan Penjajah
Muhajirin
Kamis, 11 Agustus 2022 - 19:00 WIB
Wakil Ketua Umum PP PERSIS, Dr. KH Jeje Zaenuddin (foto: LANGIT7.ID/Muhajirin)
Persatuan umat Islam di Indonesia menjadi cita-cita banyak pihak. Namun hingga kini hal itu sulit terwujud akibat perpecahan. Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (PERSIS) , Dr KH Jeje Zaenuddin, menyebut perpecahan umat Islam di Indonesia terus terjadi akibat warisan dari penjajah Belanda.
Menurut Ustadz Jeje, adanya premis warisan kolonial yang mengkotak-kotakkan umat adalah pembagian kelompok Islam dari kalangan santri dan abangan serta kaum islamis dan nasionalis.
“Jadi, warisan premis-premis fragmentasi masyarakat Islam itu dari masa Belanda, yang bertahan sampai orde lama dan orde baru itu belum hilang, karena generasinya juga belum hilang,” Ustadz Jeje saat berbincang di LANGIT7.ID di Kantor PERSIS, Jakarta Timur, Kamis (11/8/2022).
Baca Juga: Dakwah Islam Harus Ikuti Tren, Umat Juga Harus Punya Buzzer
Meski begitu, premis itu sudah mulai mengecil. Mungkin, kata dia, premis itu akan hilang jika generasi lama sudah digantikan oleh generasi baru yang memiliki pemahaman Islam yang mengarah pada persatuan.
“Kita mungkin butuh generasi baru, yang bener-benar baru yang sudah lepas dari premis dikotomi fragmentasi pemecahan atau pengkotak-kotakan masyarakat Islam di Indonesia,” tutur Ustadz Jeje.
Menurut Ustadz Jeje, adanya premis warisan kolonial yang mengkotak-kotakkan umat adalah pembagian kelompok Islam dari kalangan santri dan abangan serta kaum islamis dan nasionalis.
“Jadi, warisan premis-premis fragmentasi masyarakat Islam itu dari masa Belanda, yang bertahan sampai orde lama dan orde baru itu belum hilang, karena generasinya juga belum hilang,” Ustadz Jeje saat berbincang di LANGIT7.ID di Kantor PERSIS, Jakarta Timur, Kamis (11/8/2022).
Baca Juga: Dakwah Islam Harus Ikuti Tren, Umat Juga Harus Punya Buzzer
Meski begitu, premis itu sudah mulai mengecil. Mungkin, kata dia, premis itu akan hilang jika generasi lama sudah digantikan oleh generasi baru yang memiliki pemahaman Islam yang mengarah pada persatuan.
“Kita mungkin butuh generasi baru, yang bener-benar baru yang sudah lepas dari premis dikotomi fragmentasi pemecahan atau pengkotak-kotakan masyarakat Islam di Indonesia,” tutur Ustadz Jeje.