Wakil Ketua MPR RI: HUT RI Jangan Hanya Euforia, Harus Jadi Momen Persatuan
Muhajirin
Selasa, 16 Agustus 2022 - 16:36 WIB
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (foto: mpr.go.id)
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, mengatakan, sejak dulu umat Islam termasuk pesantren dan punya peran besar dalam perjuangan kemerdekaan.. Bahkan, rezim kolonial Belanda bisa mengakui lahirnya Al-Irsyad, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PUI, dan Persis yang berasaskan Islam.
Saat membahas konstitusi, Presiden pertama RI, IR Soekarno, dan Wakil presiden pertama RI, Muhammad Hatta, menerima masukan beberapa tokoh muslim seperti Ki Bagus Hadikusumo dan Ahmad Sanusi yang mengusulkan syariat Islam.
“Kemesraan Islam dan Indonesia sempat ternodai saat lahirnya asas tunggal pada tahun 1985. Tapi setelah 1998, kewajiban asas tunggal di sebagian era rezim Orba itu dicabut oleh Presiden BJ Habibie, hingga kini,” kata HNW dalam acara Temu Tokoh Nasional kerjasama MPR RI dengan Majelis Pesantren dan Ma’had Dakwah Indonesia (Mapadi) di Pondok Pesantren Ar-Risalah, Kota Padang, dalam keterangannya, Selasa (16/8/2022).
Baca Juga:Mengenang Jasa Ulama Memerdekakan Indonesia dari Penjajahan
Dia menegaskan, sejarah Indonesia menulis berbagai peristiwa dan peran serta umat dan tokoh-tokoh Islam menyelamatkan dan memperjuangkan berdiri tegaknya NKRI. Maka itu, dia mengajak seluruh elemen umat Islam saat ini berjuang mengisi kemerdekaan, salah satunya pesantren.
HNW menilai, pesantren memiliki peran penting untuk mengisi kemerdekaan RI. Pesantren harus menjadi pelopor untuk mempererat kerjasama, persatuan, dan kesatuan.
“Sekarang saatnya ormas-ormas Kepesantrenan termasuk MAPADI untuk berkolaborasi lanjutkan peran dan perjuangan para ulama dan pesantren-pesantren untuk makin berkontribusi mengisi, mensyukuri dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia,”
Saat membahas konstitusi, Presiden pertama RI, IR Soekarno, dan Wakil presiden pertama RI, Muhammad Hatta, menerima masukan beberapa tokoh muslim seperti Ki Bagus Hadikusumo dan Ahmad Sanusi yang mengusulkan syariat Islam.
“Kemesraan Islam dan Indonesia sempat ternodai saat lahirnya asas tunggal pada tahun 1985. Tapi setelah 1998, kewajiban asas tunggal di sebagian era rezim Orba itu dicabut oleh Presiden BJ Habibie, hingga kini,” kata HNW dalam acara Temu Tokoh Nasional kerjasama MPR RI dengan Majelis Pesantren dan Ma’had Dakwah Indonesia (Mapadi) di Pondok Pesantren Ar-Risalah, Kota Padang, dalam keterangannya, Selasa (16/8/2022).
Baca Juga:Mengenang Jasa Ulama Memerdekakan Indonesia dari Penjajahan
Dia menegaskan, sejarah Indonesia menulis berbagai peristiwa dan peran serta umat dan tokoh-tokoh Islam menyelamatkan dan memperjuangkan berdiri tegaknya NKRI. Maka itu, dia mengajak seluruh elemen umat Islam saat ini berjuang mengisi kemerdekaan, salah satunya pesantren.
HNW menilai, pesantren memiliki peran penting untuk mengisi kemerdekaan RI. Pesantren harus menjadi pelopor untuk mempererat kerjasama, persatuan, dan kesatuan.
“Sekarang saatnya ormas-ormas Kepesantrenan termasuk MAPADI untuk berkolaborasi lanjutkan peran dan perjuangan para ulama dan pesantren-pesantren untuk makin berkontribusi mengisi, mensyukuri dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia,”