LANGIT7.ID, Padang - Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, mengatakan, sejak dulu umat Islam termasuk pesantren dan punya peran besar dalam perjuangan kemerdekaan.. Bahkan, rezim kolonial Belanda bisa mengakui lahirnya Al-Irsyad, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PUI, dan Persis yang berasaskan Islam.
Saat membahas konstitusi, Presiden pertama RI, IR Soekarno, dan Wakil presiden pertama RI, Muhammad Hatta, menerima masukan beberapa tokoh muslim seperti Ki Bagus Hadikusumo dan Ahmad Sanusi yang mengusulkan syariat Islam.
“Kemesraan Islam dan Indonesia sempat ternodai saat lahirnya asas tunggal pada tahun 1985. Tapi setelah 1998, kewajiban asas tunggal di sebagian era rezim Orba itu dicabut oleh Presiden BJ Habibie, hingga kini,” kata HNW dalam acara Temu Tokoh Nasional kerjasama MPR RI dengan Majelis Pesantren dan Ma’had Dakwah Indonesia (Mapadi) di Pondok Pesantren Ar-Risalah, Kota Padang, dalam keterangannya, Selasa (16/8/2022).
Baca Juga: Mengenang Jasa Ulama Memerdekakan Indonesia dari Penjajahan
Dia menegaskan, sejarah Indonesia menulis berbagai peristiwa dan peran serta umat dan tokoh-tokoh Islam menyelamatkan dan memperjuangkan berdiri tegaknya NKRI. Maka itu, dia mengajak seluruh elemen umat Islam saat ini berjuang mengisi kemerdekaan, salah satunya pesantren.
HNW menilai, pesantren memiliki peran penting untuk mengisi kemerdekaan RI. Pesantren harus menjadi pelopor untuk mempererat kerjasama, persatuan, dan kesatuan.
“Sekarang saatnya ormas-ormas Kepesantrenan termasuk MAPADI untuk berkolaborasi lanjutkan peran dan perjuangan para ulama dan pesantren-pesantren untuk makin berkontribusi mengisi, mensyukuri dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia,”
Pesantren dan seluruh elemen masyarakat harus bersama-sama berkontribusi mengisi kemerdekaan dengan segala yang positif dan konstruktif untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi. Antara lain meninggalkan segala kebiasaan kaum kolonialis seperti memecah-belah kelompok masyarakat, membiarkan laku menyimpang dari etika, hukum dan korupsi.
“Maka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan Indonesia, tidak selayaknya hanya diisi dengan euforia sesaat misalnya lomba makan kerupuk saja,” kata HNW.
Namun, kata dia, HUT kemerdekaan juga harus mampu mengingatkan bangsa Indonesia untuk mengingat sejarah perjuangan kemerdekaan dan cita-cita para pendiri bangsa. Semua elemen masyarakat juga harus mengisi kemerdekaan dengan mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain di dunia.
Baca Juga: Pidato Bung Karno: Sebelum Al-Quran Jadi UUD, Manusia Bertengkar Terus
“Hanya dengan mengisi kemerdekaan secara jujur dan serius, peringatan HUT Proklamasi akan semakin menjadi punya arti,” ucap HNW.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga mengajak seluruh ormas Islam, Termasuk ormas yang menghimpun pesantren, tidak lagi merasa canggung apalagi takut untuk berkumpul, berserikat, dan menyampaikan pendapat. Itu positif untuk berkontribusi dan mensyukuri kemerdekaan RI.
Dia menjelaskan, berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat merupakan hak asasi manusia yang dijamin konstitusi. Itu termaktub dalam pasal 28 E ayat 3, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
(jqf)