LANGIT7.ID-, Jakarta- - Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (NHW), mengatakan, kelompok pesantren dan santri mendedikasikan pengabdian kepada masyarakat pedesaan secara sederhana. Pengabdian tersebut diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang bersifat keagamaan kepada masyarakat.
Kehadiran santri pada awalnya memang sebagai pelajar dan penyiar agama Islam. Namun, lebih jauh dari itu, kelompok santri berikhtiar meletakkan visi dan kiprahnya dalam kerangka pengabdian sosial, yang pada mulanya ditekankan kepada pembentukan moral keagamaan.
Pada perkembangannya, peran santri dikembangkan kepada upaya pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks seperti ini, para santri pada dasarnya merupakan pendidik yang sarat dengan nuansa reformasi sosial.
Santri memiliki prinsip bahwa ahli ilmu memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding ahli ibadah. Ahli ilmu bisa menyebarkan manfaat ke masyarakat bahkan negara. Sementara, ahli ibadah hanya untuk pribadi saja.
Baca juga:
Lewat Buku Poso di Balik Operasi Madago Raya, Mayjend Farid Makruf Paparkan Soliditas TNI-Polri“Dari sinilah kaum santri menyadarkan dan membangunkan masyarakat akan kondisi kolonialisme oleh para penjajah, agar masyarakat bangun dan bangkit melawan para penjajah merebut kemerdekaannya,” kata HNW saat menyampaikan khutbah di Masjid Istiqlal Jakarta, dikutip Kamis (26/10/2023).
Dari situ, bangkit Pangeran Diponegoro, Teungku Cik Ditiro, Tuanku Imam Bonjol, Syaikh Yusuf AlMakassari, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, KH. Sholeh Darat, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, serta nama-nama mulia lainnya dari kalangan ulama dan santri yang dengan gagah berani serta bijaksana melawan kolonialisme asing yang menindas umat Islam dan masyarakat Nusantara.
Bahkan sejarah mencatat perjuangan, ijtihad, mujahadah, dan kontribusi positif kalangan Ulama dan Santri dalam menyongsong kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Sebuah momentum titik balik kejayaan bangsa Indonesia yang dalam perjalanannya membawa pesan yang tegas sebagaimana diabadikan Pembukaan UUD NRI 1945.
“Kita bersyukur, kesetiaan dan kesungguhan perjuangan kaum ulama dan santri selama berabad-abad, telah menjadi fondasi abadi bagi negara Indonesia Merdeka yang kita cintai ini,” ucap HNW.
Namun, sesungguhnya ujian besar bagi bangsa Indonesia tidak berhenti setelah proklamasi kemerdekaan. Bahkan, upaya-upaya musuh bangsa Indonesia semakin keras dalam meruntuhkan Republik Indonesia yang baru berdiri.
“Berbagai negara kuat bergabung bersama penjajah Belanda untuk menghancurkan kekuatan tekad bangsa Indonesia melalui berbagai tekanan, serangan, invasi, dan agresi,” kata HNW.
Di tengah membaranya suasana Surabaya yang sedang dalam ancaman invasi Sekutu untuk meruntuhkan eksistensi Indonesia, KH Hasyim Asy'ari sang pendiri Nahdlatul Ulama dan selaku ulama besar tanah Jawa, dengan tegas mengeluarkan Fatwa Jihad fi Sabilillah pada 22 Oktober 1945 yang mendorong umat Islam untuk berjihad di jalan Allah, mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamirkan dari cengkeraman penjajahan.
Fatwa ini menggema di seluruh penjuru Nusantara, mengajak seluruh umat Islam untuk bersatu, berjuang, dan berkorban demi negeri ini. Ini adalah kebijaksanaan dan kedalaman pemahaman para ulama dan santri, dalam merealisasikan kebulatan tekad melawan penjajah dalam kerangka Jihad fi Sabilillah.
Jihad dalam konteks ini bukan semata tentang perang dan adu senjata semata, melainkan tentang perjuangan, pengorbanan, dan kesediaan untuk memberikan yang terbaik demi kebaikan umat dan bangsa, serta segenap umat manusia. Resolusi Jihad mengajarkan bahwa Islam, nasionalisme, dan kemanusiaan, merupakan kesatuan tak terbagi yang esensial dalam membangun bangsa yang kuat, berdaulat, dan beradab.
Fatwa dan Resolusi Jihad menjadi bukti abadi bahwa kalangan ulama dan santri mengemban peran penting dan mensejarah dalam pembentukan karakter dan arah perjuangan bangsa. Fatwa dan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 ditetapkan sebagai peringatan Hari Santri Nasional yang sebentar lagi akan kita peringati.
“Lewat semangat jihad dan perjuangan yang diilhami oleh ajaran-ajaran Islam, para santri telah menunjukkan bahwa Islam dihadirkan dengan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, tanah air, hingga segenap umat manusia. Tidak hanya dengan mewujudkan dan mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia dari semenjak kemerdekaannya hingga hari ini, bahkan kalangan Ulama dan Santri membuktikan kontribusi Indonesia bagi tegaknya perdamaian dan kemaslahatan kemanusiaan di seluruh dunia,” ujar HNW.
(ori)