LANGIT7.ID–Jakarta; Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menegaskan kembali posisi Indonesia dalam geopolitik internasional, yakni berpihak kepada perjuangan kemerdekaan Palestina. Menurutnya, arah politik luar negeri Indonesia tidak pernah netral terhadap penjajahan, karena sejak awal berdiri bangsa ini sudah menolak segala bentuk kolonialisme.
Pernyataan itu disampaikan Hidayat saat menghadiri acara peringatan dua tahun Badai Aqsha di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteng, Jakarta Pusat. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara MUI dengan berbagai organisasi Islam, lembaga filantropi, majelis agama, akademisi, serta komunitas pendukung Palestina.
Dalam kesempatan itu, Hidayat mengingatkan bahwa prinsip politik bebas aktif Indonesia tidak berarti tanpa keberpihakan. Ia menegaskan bahwa sikap dasar tersebut sudah digariskan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang sejak awal mendukung penuh kemerdekaan bangsa Palestina.
“Yang menciptakan non blok Bung Karno. Sangat jelas berada di blok Palestina, bukan Israel. Mendukung kemerdekaan, bukan penjajahan,” ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu dalam keterangannya, dikutip Jumat (10/10/2025).
Hidayat juga mengutip pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan moral bangsa Indonesia untuk berpihak kepada bangsa yang terjajah. Ia menegaskan, meskipun teks UUD tidak menyebutkan negara tertentu, semangatnya tetap berpihak pada kemerdekaan dan menolak segala bentuk penjajahan.
Menurutnya, dari semangat itulah Indonesia sejatinya bukanlah negara yang netral, melainkan negara yang jelas berada di “blok kemerdekaan”. “Sehingga, Indonesia merupakan negara yang blok Palestina, blok kemerdekaan, dan bukan negara blok penjajahan. Meski dalam dunia demokrasi boleh memberikan tafsir,” lanjutnya.
Lebih jauh, Hidayat mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak bergantung pada pihak luar untuk membantu perjuangan rakyat Palestina. Ia menilai, yang terpenting adalah menghindari sikap saling menyalahkan atau menuduh satu sama lain, karena hal itu justru sesuai dengan strategi pihak yang ingin melemahkan dukungan terhadap Palestina.
“7 Oktober menghadirkan peta terbalik yang diinginkan Israel. Kita akan dapatkan opini apa dan siapa, dulu hampir mengatakan terbawa framing Islam teroris, Arab teroris, pejuang teroris, sekarang terbalik, hampir seluruh dunia sebut Israel teroris, pendukung teroris adalah teroris,” ucapnya.
Pernyataan Hidayat menegaskan kembali garis ideologis Indonesia yang konsisten menolak penjajahan dalam bentuk apa pun. Dalam konteks konflik Palestina-Israel, ia menilai posisi tersebut bukan hanya soal politik luar negeri, melainkan juga amanat moral bangsa yang diwariskan sejak masa pendiri republik.
(lam)