Ramadhan adalah buan suci milik umat Islam, dan seluruh muslim di dunia berhak menyambut dan merayakannya dengan berbagai cara. Tak terkecuali di Palestina, di antara reruntuhan bangunan hancur yang hanya menyisakan abu dan debu, terpasang lampion cantik berwarna-warni.
Tampak di sebuah bangunan bekas rumah enam lantai di Gaza selatan, lampion berwarna-warni itu bergoyang di atas beton yang hancur.
Di lingkungan Abu Sufyan di Khan Younis, anak-anak memanjat tembok yang hancur dan merentangkan kawat di antara tenda dan bangunan yang roboh. Mereka bertekad untuk menghiasi jalan demi menyambut Ramadhan.
Ini menjadi hal pertama yang bisa mereka lakukan dalam menyambut bulan suci, sejak gencatan senjata menghentikan perang Israel yang berlangsung selama dua tahun dan telah menghancurkan sebagian besar Gaza.
Bagi penduduk di sini, menggantung dekorasi bukan hanya ritual musiman. Ini adalah tindakan untuk merebut kembali kehidupan.
Baca juga: Bagaimana Tradisi Muslim di Tiongkok Menyambut Ramadhan?Selama berbulan-bulan, abu dan debu mendominasi lingkungan tersebut. Kini, spanduk bertuliskan "Ramadan Mubarak" dan "Selamat Datang, Bulan Suci" tergantung di atas lorong-lorong yang masih dipenuhi bekas bombardir.
Lampu merah dan kuning menembus cakrawala abu-abu bangunan yang hancur. Dekorasi tersebut ditenagai oleh generator kecil yang hanya beroperasi beberapa jam setiap malam, tetapi itu sudah cukup.
Anak-anak berlari di antara tenda-tenda yang menggantikan rumah mereka, tertawa dan mencoba lentera yang selamat dari perang bersama mereka.
"Tradisi ini tidak pernah berhenti," kata Yasser Al-Sattari, seorang warga setempat yang mengawasi dekorasi tersebut, melansir Anadolu, Rabu (18/2/2026). "Bahkan ketika semuanya runtuh," lanjut dia.
Sattari telah kehilangan rumah, istri, saudara perempuan, dan beberapa anggota keluarga besarnya selama perang. Namun ia bersikeras dekorasi tersebut harus tetap dipasang.
"Kami menolak membiarkan perang merampas kegembiraan Ramadan dari anak-anak kami," katanya. "Mereka sudah kehilangan terlalu banyak."
Ramadhan dan Perjuangan Bertahan HidupDua Ramadan terakhir berlangsung di tengah bombardir dan kondisi seperti kelaparan. Keluarga-keluarga berjuang untuk mendapatkan makanan pokok untuk iftar (makan berbuka puasa) dan sahur karena pengungsian menyebar di seluruh wilayah tersebut.
Seluruh lingkungan tetap rata dengan tanah. Ribuan orang masih hilang di bawah reruntuhan.
Namun Ramadan kali ini, meskipun lebih tenang, membawa makna yang berbeda. "Kami selamat," kata Sattari. "Dan itulah mengapa kami merayakannya."
Listrik sebagian besar masih tidak tersedia di seluruh Gaza. Israel memutus pasokan listrik pada awal perang dan terus membatasi masuknya bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan satu-satunya pembangkit listrik di wilayah tersebut, meskipun ada gencatan senjata.
Menurut kantor media pemerintah Gaza, lebih dari 5.000 kilometer jaringan listrik dan lebih dari 2.000 transformator hancur selama konflik, dengan kerugian diperkirakan mencapai USD1,4 miliar.
Baca juga: Balimau, Tradisi Mandi Jeruk Nipis di Sumbar Menyambut RamadhanNamun, saat malam tiba, lentera berkelap-kelip di atas tenda dan fasad bangunan yang retak.
Cahaya redup. Kabel-kabel rapuh. Jalanan tetap rusak.
Tetapi di lingkungan Abu Sufyan, pesannya tampak jelas yaitu: Ramadan akan datang, meskipun harus melewati reruntuhan.
Perjanjian gencatan senjata yang didukung AS telah berlaku di Gaza sejak 10 Oktober, menghentikan perang Israel selama dua tahun yang telah menewaskan lebih dari 72.000 orang. Sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 171.000 lainnya sejak Oktober 2023.
Sejak perjanjian tersebut berlaku pada 10 Oktober, pasukan Israel telah melakukan ratusan pelanggaran melalui penembakan dan tembakan, menewaskan 603 warga Palestina dan melukai 1.618 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. (*/lsi/anadolu)
Baca juga: Serentak, Muslim di Turki, Oman, Singapura & Australia Mulai Puasa Ramadhan 1447 H Besok(lsi)