LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden Pertama Republik Indonesia,
Ir Soekarno, merupakan sosok muslim yang memiliki pandangan dan wawasan yang luas. Dia tidak hanya mendalami ilmu-ilmu agama, tapi juga memiliki latar belakang ilmu umum.
Dalam peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara pada 28 Maret 1959, Bung Karno dengan tegas mengatakan, Islam merupakan agama yang dibawa oleh semua Nabi dan Rasul. Mulai dari Nabi Adam AS hingga
Nabi Muhammad SAW.
Dia menegaskan, keberadaan Nabi dan Rasul adalah anugerah. Berkat mereka, manusia Bisa mengetahui jalan yang benar agar mendapatkan Kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Terutama
Nabi Muhammad SAW, dia membawa Al-Qur’an sebagai
rahmatan lil alamin.
“Sebelum nuzulul Qur’an, Sebelum Qur’an menjadi UUD daripada suatu agama, sebelum itu saudara-saudara, umat manusia seluruhnya berdebat-debat, dan bertengkar terus,” kata
Bung Karno saat memberikan pidato dalam acara tersebut.
Baca Juga: Pidato Bung Karno: Jika Kita Berjuang di Atas Dasar Agama, Kita Akan Menang
Muhammad lalu diutus menjadi Nabi dan Rasul. Dia membawa Islam sebagai agama yang mengajarkan perdamaian, sehingga kejahiliyahan perlahan luntur. Peradaban yang penuh kezaliman, berubah menjadi peradaban yang mulia berasaskan akhlak mulia.
“Jikalau umpamanya Muhammad tidak datang, saudara-saudara, manusia ini akan terus benci satu sama lain, bertengkar satu sama lain. Bertengkar, bertempur satu sama lain, tetapi Muhammad dengan ajaran Islamnya mengajarkan bahwa manusia adalah satu,” ujar Bapak Proklamator itu.
Nabi Muhammad SAW, kata
Bung Karno, membawa ajaran tauhid untuk menyempurnakan ajaran Nabi dan Rasul sebelumnya. Dia menyeru manusia agar menyembah Allah sebagai Tuhan yang Esa. Manusia tidak perlu menyembah berhala yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat.
Baca Juga: Saat Bung Karno Merangkak ke Makam Rasulullah
“Percaya kepada Tuhan satu, pokok daripada segala. Percaya kepada Tuhan, adanya Tuhan, kemudian percaya kepada malaikat-malaikat, percaya kepada nabi-nabi, percaya kepada kitab-kitab, percaya kepada takdir kadar, percaya kepada hari kiamat. Enam,” ucap
Bung Karno.
Syahadat Hanya Sekadar Tanda, Harus Diamalkan Agar SempurnaDi sisi lain, Bung Karno mengingatkan, syahadat sebagai syarat utama seorang muslim hanya sebuah tanda. Tanda bahwa seseorang telah mengikrarkan diri sebagai muslim. Tanda itu ibarat kapal yang berlayar di tengah samudra.
Kapal Belanda bisa dikenali karena ada bendera Merah Putih Biru. Kapal Indonesia dikenali karena ada bendera Merah Putih. Begitupun manusia, dia dikenali sebagai seorang muslim karena telah mengikrarkan syahadat sebagai tanda.
Maka dari itu, seorang muslim dianjurkan tidak sekadar mengucapkan dua kalimat syahadat saja. Harus ada amal ibadah.
Baca Juga: Soekarno Ternyata Seorang Santri, Belajar dari Minang hingga Cianjur
“(Syahadat) harus dikerjakan, bukan sekadar ilmu sebagai satu kepercayaan, tetapi perbuatan di atas kepercayaan. Ilmu dan amal. Amal dan ilmu.
Nabi Muhammad SAW, yang beliau tidak puas dengan ilmu, tetapi selalu menekankan kepada amal,” tegas Bung Karno.
Contoh terbaik dalam hal ini adalah Nabi Muhammad SAW. Dia telah dijanjikan kemenangan oleh Allah. Tapi, Nabi Muhammad tetap beramal dan mengajak para sahabat serta semua umat manusia untuk berilmu dan beramal.
“Meskipun dia (Muhammad) telah mendapat janji dari Tuhan, Muhammad toh beramal, meskipun saja telah dijanjikan akan menang, aku berjuang, aku berbuat, aku beramal, dia kerahkan dia punya sahabat-sahabat,” pungkas Bung Karno.
(jqf)