Keutamaan Memuliakan Tetangga dalam Islam
Hasanah syakim
Selasa, 30 Agustus 2022 - 12:30 WIB
Keutamaan Memuliakan Tetangga dalam Islam. Foto: Langit7.id/iStock.
Islam mengajarkan berbagai perkara penting bagi manusia untuk menjalani kehidupan di dunia, salah satunya memuliakan tetangga untuk memelihara dan memerkuat hubungan silaturahmi antara sesama.
Tetangga diartikan sebagai seseorang yang rumahnya bersebelahan atau hidup berdampingan dengan kita. Allah Ta'ala dan RasulNya memerintahkan umat muslim untuk memuliakan atau berbuat baik kepada tetangga, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Surat An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ..
Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.." (QS. An-Nisa:36).
Imam Qurthubi dalam tafsir Qurthubiy menjelaskan, makna ayat di atas bahwa adapun tetangga Allah Ta'ala telah memerintahkan untuk menjaganya, menunaikan haknya, serta memelihara dzimmahnya di dalam kitabNya dan di atas lisan NabiNya.
Baca Juga:Adab Mengembalikan Piring ke Tetangga, Harus Diisi atau Kosong?
Sementara itu, Syaikh Abdurrahman As Sa'di dalam tafsir As Sa'di menerangkan tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka, sudah semestinya seseorang memererat hubungan terhadap tetangganya dengan memberikan sebab-sebab hidayah dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut serta tidak memberikan gangguan baik perkataan ataupun perbuatan.
Tetangga diartikan sebagai seseorang yang rumahnya bersebelahan atau hidup berdampingan dengan kita. Allah Ta'ala dan RasulNya memerintahkan umat muslim untuk memuliakan atau berbuat baik kepada tetangga, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Surat An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ..
Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.." (QS. An-Nisa:36).
Imam Qurthubi dalam tafsir Qurthubiy menjelaskan, makna ayat di atas bahwa adapun tetangga Allah Ta'ala telah memerintahkan untuk menjaganya, menunaikan haknya, serta memelihara dzimmahnya di dalam kitabNya dan di atas lisan NabiNya.
Baca Juga:Adab Mengembalikan Piring ke Tetangga, Harus Diisi atau Kosong?
Sementara itu, Syaikh Abdurrahman As Sa'di dalam tafsir As Sa'di menerangkan tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka, sudah semestinya seseorang memererat hubungan terhadap tetangganya dengan memberikan sebab-sebab hidayah dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut serta tidak memberikan gangguan baik perkataan ataupun perbuatan.