LANGIT7.ID, Jakarta - Islam mengajarkan berbagai perkara penting bagi manusia untuk menjalani kehidupan di dunia, salah satunya memuliakan tetangga untuk memelihara dan memerkuat hubungan silaturahmi antara sesama.
Tetangga diartikan sebagai seseorang yang rumahnya bersebelahan atau hidup berdampingan dengan kita. Allah Ta'ala dan RasulNya memerintahkan umat muslim untuk memuliakan atau berbuat baik kepada tetangga, sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Surat An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ..
Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.." (QS. An-Nisa:36).
Imam Qurthubi dalam tafsir Qurthubiy menjelaskan, makna ayat di atas bahwa adapun tetangga Allah Ta'ala telah memerintahkan untuk menjaganya, menunaikan haknya, serta memelihara dzimmahnya di dalam kitabNya dan di atas lisan NabiNya.
Baca Juga: Adab Mengembalikan Piring ke Tetangga, Harus Diisi atau Kosong?Sementara itu, Syaikh Abdurrahman As Sa'di dalam tafsir As Sa'di menerangkan tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka, sudah semestinya seseorang memererat hubungan terhadap tetangganya dengan memberikan sebab-sebab hidayah dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut serta tidak memberikan gangguan baik perkataan ataupun perbuatan.
Makna
al jaar dzi al qurba adalah tetangga dekat sedangkan
al jaar al junub adalah tetangga jauh yang asing bagi kita. Menurut Ali bin Ali Thalhah dari Ibnu Abbas menerangkan, yang dimaksud tetangga dekat adalah tetangga yang di antara kita dan mereka terdapat hubungan kedekatan.
Adapun yang dimaksud tetangga yang jauh adalah tetangga yang tidak ada hubunga kekerabatan dan kedekatan. Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Aisyah bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw:
Baca Juga: Muliakan Tamu Bagian dari Tanda Kesempurnaan Imanيَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟ قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا
Artinya: "Ya Rasulullah saya mempunyai dua orang tetangga. Lantas, mana yang harus saya beri terlebih dahulu?, Rasulullah menjawab: "Berikanlah kepada tetangga yang paling dekat (pintunya) dengan rumahmu." (HR Bukhari).
Beberapa ulama menganggap hadis ini sebagai tafsir atas firman Allah Ta'ala surat An-Nisa aat 36. Menurut mereka, yang dimaksud dengan tetangga dekat adalah tetangga yang jarak rumahnya paling dekat. Adapun tetangga jauh adalah tetangga yang jarak rumahnya paling jauh.
Terdapat keutamaan dalam memuliakan tetangga sebab merekalah orang pertama yang akan memberikan pertolongan, bilamana terjadi musibah. Akhak seseorang dalam bertetangga merupakan implikasi dari nilai-nilai keimanan yang dimiliki, jika dia berakhlak baik pasti akan bersikap baik terhadap tetangganya.
Baca Juga: Ustaz Jeje Zaenudin: Mukmin yang Kuat Lebih Dicintai Allah(zhd)