LANGIT7.ID, Jakarta - Memuliakan tamu menjadi salah satu bagian dari tanda kesempurnaan keimanan kepada Allah Ta'ala dan hari akhir. Kedatangan tamu menjadi suatu keberkahan bagi setiap muslim.
Hendaklah umat muslim menyambut baik kedatangan tamu agar pahala yang diterima adalah sebaik-baiknya pahala. Berikut tiga hal tentang adab menerima tamu dalam Islam, antara lain:
1. Menerima Tamu dengan BaikSeorang tamu yang berkunjung ke rumah kita, baik itu datang sendiri ataupun telah diundang, keduanya hendaknya diterima dengan baik.
Rasulullah SAW memberikan teladan atau contoh yang baik saat menerima tamu, di mana menerima dan memuliakan tamu merupakan salah satu bagian dari tanda keimanan. Sebagaimana dijelaskan dalan sebuah hadis dari Abu Suraih Al Ka'bi bahwa Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, tidak halal bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait) mengeluarkannya.” (HR Bukhari).
Baca Juga: 5 Ide Teras Rumah Minimalis, Tetap Indah Meski 1x2 MeterKetika seseorang mengetuk pintu rumah dan memberi salam, segeralah menjawab salam dan memberikan sambutan dengan membuka pintu disertai dengan senyum ceria dan menyapa dengan ramah sebagai tanda kegembiraan dalam menyambutnya.
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Artinya: "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah” (HR Muslim).
Senyum akan melapangkan hati tamu dan membuatnya merasa terhormat serta dihargai, sehingga pertemuan menjadi lebih hangat dan akrab.
2. Menjamu Tamu dengan BaikAbu Suraih Al Ka’bi menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Artinya: ”Barang siapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir, maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW sendiri sering kali memberikan hidangan kepada tamu-tamunya. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah dia berkata:
“Pada suatu malam saya pernah bertamu kepada Nabi SAW. Lalu beliau memerintahkan untuk diambilkan sepotong daging kambing besar. Setelah dipanggang, beliau mengambil sebilah pisau, lalu beliau memotong-motongnya untukku dengan pisau tersebut” (HR Abu Daud).
Bahkan, terhadap tamu non muslim pun beliau menjamu. Dari Abu Hurairah berkata, “seorang kafir datang bertamu kepada Rasulullah SAW. Maka beliau memerintahkan untuk mendatangkan seekor kambing untuk diperah, orang kafir itu lalu memimun perahan susunya. Kemudian diperahkan dari kambing yang lain dan dia meminumnya. Lalu diperahkan dari kambing lain lain, dan dia meminumnya lagi, hingga menghabiskan susu dari tujuh kambing.
Baca Juga: BBM Akan Naik, Berikut Daftar Harganya di Seluruh SPBU IndonesiaKeesokkan harinya orang itu masuk Islam. Rasulullah SAW menyuruh agar kambing beliau diperah. Dia pun minum air susunya, kemudian beliau memerahkannya lagi namun dia tidak sanggup menghabisinya.
Sehingga kemudian Rasulullah Saw bersabda:
اَلْمُؤْمِنُ يَأكُلُ فِي مِعً وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِيْ سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ
Artinya: “Seorang mukmin minum dengan satu usus sedangkan orang kafir minum dengan tujuh usus.” (HR Malik).
3. Mengiringi Tamu Ketika PulangSaat tamu menikmati jamuan yang disajikan, menyelesaikan hajatnya serta berpamitan untuk pulang, sebaiknya ucapkan kata-kata perpisahan yang menyenangkan diiringi ucapan terima kasih atas kunjungannya dengan raut berseri-seri.
Segera antarkan tamu hingga halaman rumah kemudian pandanglah hingga dia keluar dari halaman rumah. Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan keakraban.
Abu Ubaid Qasim bin Salam pernah mengunjungi Ahmad bin Hambal. Abu Ubaid berkata: “Tatkala aku hendak pergi, dia bangun bersamaku. Aku pun berkata (karena malu atas penghormatannya itu): “Jangan kau lakukan ini, wahai Abu Abdillah!”
Baca Juga: Tips Parenting dari Ustadz Abdul Somad, Sediakan Waktu untuk Anak(zhd)