Bersandar di Batang Cabai, Masjid Piramida Jerrae Simbol Peradaban Islam
Akbar Nurqadri
Senin, 05 Juli 2021 - 15:22 WIB
Masjid Jerrae merupakan masjid tertua di Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang berdiri pada 1016 H atau 1609 M. Foto: Istimewa
Masjid ini tak hanya berbentuk piramida. Tapi juga unik karena berdiri dengan disanggah batang cabai. Masjid tertua di Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), itu berdiri pada 1016 H atau 1609 M.
Dikutip dari sulsel.kemenag.go.id, masjid yang diberi nama Masjid Jerrae itu masih berdiri sampai sekarang. Karena usianya mencapai lebih 400 tahun, Masjid Jerrae sudah mengalami beberapa kali renovasi.
Namun, hingga kini, tiang penyangganya diklaim masih asli yang terbuat dari batang cabai. Warga Sulsel menyebutnya batang ladang. Ciri khas dan keunikan itulah yang menjadikan Masjid Jerrae menjadi salah satu ikon wisata religi di Sidenreng Rappang atau Sidrap.
Masjid Tua Jerrae dibangun di atas area seluas 21x21 meter persegi. Bagian atasnya bersusun tiga, mirip bangunan masjid Demak. Konon, empat buah tiang penyanggahnya terbuat dari kayu cabai. Empat tiang berada tepat di posisi tengah berdiameter 35 centimeter (cm). Sebanyak 20-an tiang lainnya berdiameter 20 cm.
Sumber-sumber literatur mengenai keberadaan masjid unik ini memang belum banyak. Namun, cukup masyhur diberitakan karena keunikannya dari batang cabai. Masjid ini dibangun oleh Addaowang Sidenreng La Patiroi di Desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae.
La Patiroi membangun masjid tersebut bersama Syekh Bojo (Syekh Abdul Rahman) dan Nene Mallomo. Daerah tersebut dahulunya menjadi pusat pemerintahan kerajaan Sidenreng Rappang. Saat itu sudah banyak rakyat yang memeluk Islam.
Usia Masjid Tua Jerra’e hampir seusia dengan Masjid Tua Katangka di Kabupaten Gowa. Dibandingkan dengan Masjid Tua Jerra’e ini, Masjid Katangka di Gowa jauh lebih terkenal karena usinya lebih tua dibandingkan semua masjid di pulai tersebut.
Dikutip dari sulsel.kemenag.go.id, masjid yang diberi nama Masjid Jerrae itu masih berdiri sampai sekarang. Karena usianya mencapai lebih 400 tahun, Masjid Jerrae sudah mengalami beberapa kali renovasi.
Namun, hingga kini, tiang penyangganya diklaim masih asli yang terbuat dari batang cabai. Warga Sulsel menyebutnya batang ladang. Ciri khas dan keunikan itulah yang menjadikan Masjid Jerrae menjadi salah satu ikon wisata religi di Sidenreng Rappang atau Sidrap.
Masjid Tua Jerrae dibangun di atas area seluas 21x21 meter persegi. Bagian atasnya bersusun tiga, mirip bangunan masjid Demak. Konon, empat buah tiang penyanggahnya terbuat dari kayu cabai. Empat tiang berada tepat di posisi tengah berdiameter 35 centimeter (cm). Sebanyak 20-an tiang lainnya berdiameter 20 cm.
Sumber-sumber literatur mengenai keberadaan masjid unik ini memang belum banyak. Namun, cukup masyhur diberitakan karena keunikannya dari batang cabai. Masjid ini dibangun oleh Addaowang Sidenreng La Patiroi di Desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae.
La Patiroi membangun masjid tersebut bersama Syekh Bojo (Syekh Abdul Rahman) dan Nene Mallomo. Daerah tersebut dahulunya menjadi pusat pemerintahan kerajaan Sidenreng Rappang. Saat itu sudah banyak rakyat yang memeluk Islam.
Usia Masjid Tua Jerra’e hampir seusia dengan Masjid Tua Katangka di Kabupaten Gowa. Dibandingkan dengan Masjid Tua Jerra’e ini, Masjid Katangka di Gowa jauh lebih terkenal karena usinya lebih tua dibandingkan semua masjid di pulai tersebut.