Mualaf Asal Semarang Fasilitasi Para Difabel dengan Bimbel Anagata
Hasanah syakim
Ahad, 18 September 2022 - 12:00 WIB
Mantan pendeta asal Semarang, Yohanes Ignatius Kristanto. Foto: Istimewa.
Mantan pendeta asal Semarang, Yohanes Ignatius Kristanto atau kerap disapa Pak Yo, saat ini tengah menjalani kehidupan baru sebagai muslim. Pak Yo mantap memutuskan menjadi mualaf di awal tahun 2022.
Dalam menjalani kesehariannya, Yo tekun memahami setiap ayat Al-Qur'an, termasuk memelajari bagaimana cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai aturan ilmu tajwid.
Tak hanya itu, Yo juga berkomitmen untuk berdakwah dengan membuat beberapa rumah bimbingan belajar (bimbel) gratis. Salah satunya bimbingan belajar Anagata yang diperuntukan khusus untuk para difabel terutama kawan tuli.
Baca Juga:Kisah Pak Yo, Pendeta Asal Semarang Putuskan Jadi Mualaf
Yo menceritakan awal mula terbentuknya tempat belajar yang hingga kini diberi nama Anagata. Nama ini diambil dari bahasa sanskerta yang artinya masa depan.
"Di Solo saya membuat pengajian khusus bagi difabel terutama tuli. Bermula dari kawan saya yang mempunyai anak tuli, sehingga saya berinisiatif membuka pengajian dengan bantuan ustaz yang bisa bahasa isyarat," kata Yo saat di wawancara Langit7 baru-baru ini.
Tak hanya itu, dia juga mencoba untuk membuka kursus bahasa isyarat di tempat biasa dirinya berjualan es coklat, di daerah Solo. Ia berharap, melalui nama Anagata diharapkan anak-anak tuli dapat meraih masa depan cerah dan menjanjikan.
Dalam menjalani kesehariannya, Yo tekun memahami setiap ayat Al-Qur'an, termasuk memelajari bagaimana cara membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai aturan ilmu tajwid.
Tak hanya itu, Yo juga berkomitmen untuk berdakwah dengan membuat beberapa rumah bimbingan belajar (bimbel) gratis. Salah satunya bimbingan belajar Anagata yang diperuntukan khusus untuk para difabel terutama kawan tuli.
Baca Juga:Kisah Pak Yo, Pendeta Asal Semarang Putuskan Jadi Mualaf
Yo menceritakan awal mula terbentuknya tempat belajar yang hingga kini diberi nama Anagata. Nama ini diambil dari bahasa sanskerta yang artinya masa depan.
"Di Solo saya membuat pengajian khusus bagi difabel terutama tuli. Bermula dari kawan saya yang mempunyai anak tuli, sehingga saya berinisiatif membuka pengajian dengan bantuan ustaz yang bisa bahasa isyarat," kata Yo saat di wawancara Langit7 baru-baru ini.
Tak hanya itu, dia juga mencoba untuk membuka kursus bahasa isyarat di tempat biasa dirinya berjualan es coklat, di daerah Solo. Ia berharap, melalui nama Anagata diharapkan anak-anak tuli dapat meraih masa depan cerah dan menjanjikan.