Bukan Hanya Seremonial, Islam Mendorong Umatnya Terus Berhijrah
Muhajirin
Sabtu, 14 Agustus 2021 - 17:42 WIB
ilustrasi hijrah dari masa lalu ke masa depan yang lebih baik (foto: langit7.id/istock)
Rektor Universitas Islam Indonesia Internasional (UIII), Prof Komaruddin Hidayat, menegaskan, hijrah tidak boleh dibawa ke pengertian sempit, hanya sekedar seremonial semata dalam perayaan tahun baru hijriyah. Hijrah menunjukkan etos gerak yang dinamis.
Ada banyak istilah yang menunjukkan Islam sebagai agama yang bergerak seperti istilah syariah, thariqah, sabil, manhaj, thawaf, dan sa’i. Istilah-istilah tersebut bermakna Islam itu dinamis-bergerak yang selalu mendorong umatnya untuk berhijrah.
Prof Komaruddin lalu menunjukkan diksi dalam Al-Qur’an yang mendobrak partikularitas masyarakat Arab. Misalnya dalam surah Al-Anbiya ayat 107, “wama arsalnaka illa rahmatan lil-alamin”. Ayat itu merupakan padanan kalimat yang asing di telinga masyarakat Arab pra-Islam.
“Islam dalam Al-Qur’an menyebutkan ‘wama arsalnaka illa rahmatan lil-alamin. Sekarang telinga kita biasa mendengarkan itu. Tapi pada waktu itu, diksi itu aneh sekali. Waktu itu langitnya pendek sekali, antarsuku orang Arab waktu memuja sukunya luar biasa,” kata Prof Komaruddin dalam pengajian bulanan PP Muhammadiyah, dikutip Sabtu (14/8/2021).
Selain itu, diksi dalam hadist disebutkan ‘innama bu'itstu makarimal-akhlak’ merupakan budi pekerti yang memiliki dua kesimpulan sekaligus. Dua kesimpulan itu adalah spirit roadmap hijrah pemikiran Islam lil-alamin rahmat dan kasih sayang berupa ajakan kebaikan, kedamaian, kebenaran, kemerdekaan, dan keindahan.
Ayat lain yang menunjukkan orang Islam harus terus berhijrah termaktub dalam surah Ar-Rum ayat 42. Allah Ta’ala berfirman, “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Keunikan lain dari Al-Qur’an adalah menghubungkan narasi cerita-cerita dengan umat sebelumnya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 285, Allah berfirman, ‘Laa nufarriqu baina ahadin mir-rusulihi’. Ayat itu mengajak umat Islam untuk mengapresiasi dan menghargai nabi-nabi dan umat terdahulu.
Ada banyak istilah yang menunjukkan Islam sebagai agama yang bergerak seperti istilah syariah, thariqah, sabil, manhaj, thawaf, dan sa’i. Istilah-istilah tersebut bermakna Islam itu dinamis-bergerak yang selalu mendorong umatnya untuk berhijrah.
Prof Komaruddin lalu menunjukkan diksi dalam Al-Qur’an yang mendobrak partikularitas masyarakat Arab. Misalnya dalam surah Al-Anbiya ayat 107, “wama arsalnaka illa rahmatan lil-alamin”. Ayat itu merupakan padanan kalimat yang asing di telinga masyarakat Arab pra-Islam.
“Islam dalam Al-Qur’an menyebutkan ‘wama arsalnaka illa rahmatan lil-alamin. Sekarang telinga kita biasa mendengarkan itu. Tapi pada waktu itu, diksi itu aneh sekali. Waktu itu langitnya pendek sekali, antarsuku orang Arab waktu memuja sukunya luar biasa,” kata Prof Komaruddin dalam pengajian bulanan PP Muhammadiyah, dikutip Sabtu (14/8/2021).
Selain itu, diksi dalam hadist disebutkan ‘innama bu'itstu makarimal-akhlak’ merupakan budi pekerti yang memiliki dua kesimpulan sekaligus. Dua kesimpulan itu adalah spirit roadmap hijrah pemikiran Islam lil-alamin rahmat dan kasih sayang berupa ajakan kebaikan, kedamaian, kebenaran, kemerdekaan, dan keindahan.
Ayat lain yang menunjukkan orang Islam harus terus berhijrah termaktub dalam surah Ar-Rum ayat 42. Allah Ta’ala berfirman, “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Keunikan lain dari Al-Qur’an adalah menghubungkan narasi cerita-cerita dengan umat sebelumnya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 285, Allah berfirman, ‘Laa nufarriqu baina ahadin mir-rusulihi’. Ayat itu mengajak umat Islam untuk mengapresiasi dan menghargai nabi-nabi dan umat terdahulu.