LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Islam Indonesia Internasional (UIII), Prof Komaruddin Hidayat, menegaskan, hijrah tidak boleh dibawa ke pengertian sempit, hanya sekedar seremonial semata dalam perayaan tahun baru hijriyah. Hijrah menunjukkan etos gerak yang dinamis.
Ada banyak istilah yang menunjukkan Islam sebagai agama yang bergerak seperti istilah
syariah, thariqah, sabil, manhaj, thawaf, dan sa’i. Istilah-istilah tersebut bermakna Islam itu dinamis-bergerak yang selalu mendorong umatnya untuk berhijrah.
Prof Komaruddin lalu menunjukkan diksi dalam Al-Qur’an yang mendobrak partikularitas masyarakat Arab. Misalnya dalam surah Al-Anbiya ayat 107, “
wama arsalnaka illa rahmatan lil-alamin”. Ayat itu merupakan padanan kalimat yang asing di telinga masyarakat Arab pra-Islam.
“Islam dalam Al-Qur’an menyebutkan
‘wama arsalnaka illa rahmatan lil-alamin. Sekarang telinga kita biasa mendengarkan itu. Tapi pada waktu itu, diksi itu aneh sekali. Waktu itu langitnya pendek sekali, antarsuku orang Arab waktu memuja sukunya luar biasa,” kata Prof Komaruddin dalam pengajian bulanan PP Muhammadiyah, dikutip Sabtu (14/8/2021).
Selain itu, diksi dalam hadist disebutkan ‘
innama bu'itstu makarimal-akhlak’ merupakan budi pekerti yang memiliki dua kesimpulan sekaligus. Dua kesimpulan itu adalah spirit roadmap hijrah pemikiran Islam lil-alamin rahmat dan kasih sayang berupa ajakan kebaikan, kedamaian, kebenaran, kemerdekaan, dan keindahan.
Ayat lain yang menunjukkan orang Islam harus terus berhijrah termaktub dalam surah Ar-Rum ayat 42. Allah Ta’ala berfirman, “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
Keunikan lain dari Al-Qur’an adalah menghubungkan narasi cerita-cerita dengan umat sebelumnya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 285, Allah berfirman, ‘Laa nufarriqu baina ahadin mir-rusulihi’. Ayat itu mengajak umat Islam untuk mengapresiasi dan menghargai nabi-nabi dan umat terdahulu.
Ayat itu mendobrak alam pikiran masyarakat Arab pra-Islam. Al-Qur’an menyebut nama Adam, Idris, Nuh, Hud, dan Sholeh yang masih asing di telinga orang Arab. Jadi, Al-Qur’an menghubungkan alam pikiran yang partikular dan kultural di Arab pada abad ke-16 M.
Hal itu menunjukkan betapa Al-Qur’an mengubah narasi partikularistik menuju ide kosmopolitan. Sejak awal Al-Qur’an dan hadist mengajak orang beriman melewati batas-batas sempit. Secara historis, juga ditunjukkan dengan narasi keislaman yang disampaikan Rasulullah SAW saat di Makkah, dan Madinah temanya berbeda-beda, karena masyarakat yang dihadapi juga berbeda.
Demikian pula ketika Islam berkembang hingga ke Baghdad, Syiria, dan saat bertemu dengan warisan Yunani, Persia, Bizantium, hingga India. Hal itu memunculkan peradaban Islam dengan kemajuan sains, teknologi, hingga filsafat. Maka saat itu terjadi intellectual boom. “Nah ini satu contoh bagaimana bahwa sejak awal islam itu agama yang mendorong hijrah,”ujar Prof Komaruddin.
(jqf)