LANGIT7.ID – Di antara riwayat hijrah pertama menuju Abisinia pada tahun kelima kenabian, satu nama kerap disebut-sebut lebih dahulu melangkah daripada yang lain: Utsman bin Affan, pedagang kaya Quraisy dari klan Bani Umayyah, menantu Rasulullah SAW. Ia berangkat bersama istrinya, Ruqayyah, putri Nabi—meninggalkan Mekah dalam keadaan gelap, ketika tekanan terhadap kaum Muslimin mencapai puncaknya.
Namun pertanyaan yang digulirkan sejarawan modern masih menggantung: mengapa Utsman begitu cepat mengambil keputusan hijrah? Apakah ia mencari selamat, atau ada alasan lain yang jauh lebih manusiawi?
Pertanyaan itu muncul pula dalam karya monumental Muhammad Husain Haekal,
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan (Pustaka Litera AntarNusa, 1997). Haekal menulis dengan gaya investigatif: “Apakah karena ia tidak tahan melihat Muslimin lain mengalami berbagai penganiayaan? Ataukah karena ia khawatir Ruqayyah istrinya akan mendapat musibah sedang ia tak mampu melindunginya dari gangguan kaumnya sendiri?”
Pada masa hijrah pertama, kekejaman Quraisy tidak merata diterima setiap Muslim. Ada yang dibiarkan, ada yang disiksa, ada pula yang dikucilkan secara ekonomi. Namun bagi Utsman, posisi sosialnya justru memperberat keadaan. Ia berasal dari Bani Umayyah, klan paling vokal memusuhi Muhammad.
Dalam
Tarikh al-Tabari (jilid 2), dicatat bahwa pemuka Umayyah—khawatir kehilangan status—memulai kampanye keras terhadap siapa pun yang masuk Islam dari keluarga mereka sendiri. Dengan kata lain, Utsman berada tepat di titik paling rawan: seorang bangsawan Quraisy yang membelot, kemudian menikahi putri pemimpin “agama baru” yang dianggap mengancam tatanan Mekah.
Sejarawan
Wilferd Madelung dalam
The Succession to Muhammad (Cambridge, 1997) menulis bahwa posisi Utsman “secara politik mengundang permusuhan lebih besar dibanding kebanyakan sahabat.” Hijrah cepat-cepat bukanlah pelarian, melainkan langkah menghindari kekerasan yang kemungkinan besar akan diarahkan langsung kepada Ruqayyah—sebuah risiko yang tak sanggup ditanggung oleh seorang suami sekaligus bangsawan yang menjunjung kehormatan keluarga.
Cinta dan Kekhawatiran Seorang SuamiNarasi Haekal menaruh perhatian pada sisi manusiawi Utsman. Di Mekah, rumah tangga Utsman dan Ruqayyah hidup di bawah ancaman. Ruqayyah—muda, lembut, dan terkenal kecantikannya—menjadi sasaran tekanan sosial. Beberapa perempuan Quraisy mencemoohnya karena “mengikuti agama baru yang memecah belah keluarga besar.”
Dalam
al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibn Katsir meriwayatkan bahwa Utsman dikenal sebagai lelaki yang “sangat perasa dan lembut hati.” Haekal memadukan riwayat itu dengan logika sosial Arab: seorang suami Quraisy pada masa itu merasa hina bila istrinya menjadi korban gangguan karena ia dianggap tak mampu melindungi. Dalam budaya kesukuan, itu bukan sekadar tragedi pribadi—tetapi aib yang menempel seumur hidup.
Itu sebabnya, tulis Haekal, kemungkinan besar faktor terbesar hijrah cepat Utsman adalah melindungi kehormatan Ruqayyah. Bahkan sebuah riwayat dari Ibn Sa’ad menyebut bahwa ketika Rasulullah menanyakan keadaan Ruqayyah kepada seorang Muslimah yang pulang dari Abisinia, perempuan itu menjawab: “Aku melihatnya sedang dinaikkan ke atas seekor keledai.”
Rasulullah sangat terharu, lalu bersabda: “Semoga Allah menyertainya. Utsman orang yang pertama hijrah mencari perlindungan Allah setelah turunnya wahyu.”
Sebuah kalimat yang mempertegas bahwa hijrah Utsman merupakan tindakan mulia, bukan pengecut seperti kadang dituduhkan kaum Quraisy.
Hijrah Sebagai Strategi DakwahDalam perspektif sejarah Islam, hijrah pertama bukanlah sekadar perlindungan fisik. Ia adalah strategi dakwah untuk mempertahankan kehidupan spiritual. Fazlur Rahman dalam
Islam (University of Chicago Press, 1979) menilai hijrah ke Abisinia sebagai “tindakan visioner” yang menunjukkan bahwa Islam sejak awal tidak mengorbankan kemanusiaan demi heroisme yang sia-sia.
Keputusan Utsman mempercepat hijrah justru selaras dengan visi Nabi: menyelamatkan iman dari tekanan yang bisa memadamkannya. Ini diperkuat oleh pandangan Raghib as-Sirjani dalam
Rijal Haula ar-Rasul (2008) yang menggambarkan Utsman sebagai “sahabat yang mengutamakan stabilitas kejiwaan dalam beragama”—sebuah karakter yang membuatnya kelak dipilih sebagai khalifah ketiga.
Dengan hijrah, Utsman bukan lari, melainkan menjaga keberlanjutan dakwah melalui jalan yang paling realistis.
Dua Kali Hijrah, Satu KesetiaanUtsman dan Ruqayyah tercatat ikut dua gelombang hijrah ke Abisinia. Ketika kembali sebentar ke Mekah setelah mendengar rumor Quraisy menghentikan gangguan, mereka mendapati kondisi memburuk dan kembali hijrah sekali lagi.
Keteguhan itu membuat sejarawan Ibn Hajar al-Asqalani dalam
al-Ishabah fi Tamyiz al-Sahabah menyebut Utsman sebagai “sahabat dengan jejak hijrah paling bersih.”
Setelah hijrah besar ke Madinah, rumah Utsman ditempatkan berhadapan dengan rumah Rasulullah—sebuah simbol kedekatan spiritual dan keluarga.
Kesimpulan, mengapa Utsman cepat-cepat hijrah? Dari rekaman sejarah, jawabannya bukan satu, tetapi berlapis:
1. Ancaman dari Bani Umayyah, kaumnya sendiri yang paling keras menentang Islam.
2. Keinginan melindungi Ruqayyah, istrinya, dari gangguan sosial yang sangat mungkin terjadi.
3. Kelembutan karakter, yang membuatnya tidak tahan melihat penyiksaan kaum lemah.
4. Strategi dakwah, selaras dengan perintah Nabi untuk mencari tempat aman bagi keimanan.
5. Budaya kehormatan Arab, yang mendorongnya menghindari aib bila ia gagal menjaga keluarganya.
Seperti ditulis Haekal, “Mungkin salah satu sebab itu benar, atau mungkin semuanya.” Namun satu hal pasti: hijrah Utsman bukan kisah pelarian, melainkan kisah keberanian yang dibungkus kelembutan—ciri khas seorang khalifah yang kelak memimpin dengan hati, bukan dengan pedang.
(mif)