Mendag Ungkap Penyebab Harga Beras Mahal
Fajar adhitya
Ahad, 25 September 2022 - 20:35 WIB
ilustrasi (foto: LANGIT7.ID/ iStock)
Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mengungkapkan penyebab harga beras belakangan ini mahal. Dia meminta masyarakat tak perlu panik dengan adanya kenaikan harga beras mengingat pemerintah akan memberi subsidi.
Mendag menjelaskan, harga beras saat ini mulai naik karena harga gabah naik dari Rp4.400 menjadi Rp5.500. Kenaikan ini dipicu tiap daerah di Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten membuat gabah dan banyak perusahaan yang menyerap gabah tersebut.
“Karena gabahnya naik dr Rp4.400/kg ke Rp5.500/kg, karena, di Jatim bikin, Jateng bikin, Banten bikin, jadi rebutan beli gabah," kata Zulhas dalam acara 'Kinerja 100 Hari Mendag' di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Ahad (25/9/2022).
Baca juga:Pedagang Meraup Rezeki dari Muktamar Persis di Bandung
Seharusnya, kata Mendag, rebutan gabah ini bisa lebih ditata. Negara yang membeli dengan harga mahal lalu menjual dengan harga murah.
Ia melanjutkan, selama ini petani tidak hanya memproduksi, tapi juga mencari pembeli hasil produksi tersebut. Padahal menurutnya, petani tidak harus dibebani tugas itu dan fokus pada produksi.
Mendag mengusulkan agar pemerintah melalui BUMN dan Bulog dapat membeli produksi petani, dengan anggaran sebesar Rp100 triliun per tahun. Ia mengaku, presiden sudah menyetujui usulan itu.
Mendag menjelaskan, harga beras saat ini mulai naik karena harga gabah naik dari Rp4.400 menjadi Rp5.500. Kenaikan ini dipicu tiap daerah di Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten membuat gabah dan banyak perusahaan yang menyerap gabah tersebut.
“Karena gabahnya naik dr Rp4.400/kg ke Rp5.500/kg, karena, di Jatim bikin, Jateng bikin, Banten bikin, jadi rebutan beli gabah," kata Zulhas dalam acara 'Kinerja 100 Hari Mendag' di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Ahad (25/9/2022).
Baca juga:Pedagang Meraup Rezeki dari Muktamar Persis di Bandung
Seharusnya, kata Mendag, rebutan gabah ini bisa lebih ditata. Negara yang membeli dengan harga mahal lalu menjual dengan harga murah.
Ia melanjutkan, selama ini petani tidak hanya memproduksi, tapi juga mencari pembeli hasil produksi tersebut. Padahal menurutnya, petani tidak harus dibebani tugas itu dan fokus pada produksi.
Mendag mengusulkan agar pemerintah melalui BUMN dan Bulog dapat membeli produksi petani, dengan anggaran sebesar Rp100 triliun per tahun. Ia mengaku, presiden sudah menyetujui usulan itu.