LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan,
Zulkifli Hasan mengungkapkan penyebab harga beras belakangan ini mahal. Dia meminta masyarakat tak perlu panik dengan adanya kenaikan harga beras mengingat pemerintah akan memberi subsidi.
Mendag menjelaskan, harga beras saat ini mulai naik karena harga gabah naik dari Rp4.400 menjadi Rp5.500. Kenaikan ini dipicu tiap daerah di Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten membuat gabah dan banyak perusahaan yang menyerap gabah tersebut.
“Karena gabahnya naik dr Rp4.400/kg ke Rp5.500/kg, karena, di Jatim bikin, Jateng bikin, Banten bikin, jadi rebutan beli gabah," kata Zulhas dalam acara 'Kinerja 100 Hari Mendag' di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Ahad (25/9/2022).
Baca juga: Pedagang Meraup Rezeki dari Muktamar Persis di BandungSeharusnya, kata Mendag, rebutan gabah ini bisa lebih ditata. Negara yang membeli dengan harga mahal lalu menjual dengan harga murah.
Ia melanjutkan, selama ini petani tidak hanya memproduksi, tapi juga mencari pembeli hasil produksi tersebut. Padahal menurutnya, petani tidak harus dibebani tugas itu dan fokus pada produksi.
Mendag mengusulkan agar pemerintah melalui BUMN dan Bulog dapat membeli produksi petani, dengan anggaran sebesar Rp100 triliun per tahun. Ia mengaku, presiden sudah menyetujui usulan itu.
Dari sisi stok, Mendag menyebut saat ini cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada di gudang milik Perum Bulog mencapai 800 ribu ton. Menurutnya, stok masih akan mampu mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun.
Baca juga: Ombudsman Panggil Mentan Terkait Tertahannya 1,4 Juta Kg Impor HoltikulturaAdapun mengenai subsidi, pemerintah akan merancang subsidi terhadap selisih harga jualnya. Misalnya harga beras dari Bulog bisa dibantu subsidi.
“Jadi tidak perlu khawatir sebetulnya karena dibiayai pemerintah. Masyarakat tidak akan membayar lebih mahal. Beras, harga selisihnya akan dibayar pemerintah. Insya Allah aman," katanya.
(sof)