Psikolog: Banyak Tulang Punggung Keluarga Jadi Korban Kanjuruhan
Mahmuda attar hussein
Rabu, 05 Oktober 2022 - 12:00 WIB
Foto-foto korban tragedi Kanjuruhan. (Foto: Istimewa).
Psikolog Universitas Muhammadiyah Malang, Hudaniah, menyebutkan keluarga korban tragedi Kanjuruhan mengalami kehilangan berat. Sebab tidak sedikit dari mereka yang menjadi tulang punggung.
"Ada korban yang menjadi tulang punggung, anak pertama, anak tunggal, suami, anak, dan lainnya. Semakin kuat peran korban di keluarganya, maka semakin tinggi pula tingkat kehilangannya," katanya seperti dilansir laman Muhammadiyah, dikutip Rabu (5/10/2022).
Menurutnya, istri dan anak-anak korban merasa kehilangan mendalam, terutama korban meninggal yang merupakan tulang punggung keluarga.
"Pun dengan peran korban lainnya," ujarnya.
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Minta Tragedi Kanjuruhan Diusut Profesional dan Proporsional
Hudaniah menyebutkan, salah satu cara untuk mengurangi rasa kehilangan keluarga itu dengan cara dukungan sosial. Dukungan itu bisa diberikan oleh keluarga, tetangga, atau lembaga pemerintahan terdekat seperti RT atau RW yang bisa berusaha untuk menemani dan menenangkan keluarga korban.
Kemudian, lanjut dia, bila kondisi keluarga telah membaik, maka dianjurkan anggota keluarga yang ditinggalkan bisa move-on dan melakukan kegiatan lain untuk melanjutkan hidup.
"Ada korban yang menjadi tulang punggung, anak pertama, anak tunggal, suami, anak, dan lainnya. Semakin kuat peran korban di keluarganya, maka semakin tinggi pula tingkat kehilangannya," katanya seperti dilansir laman Muhammadiyah, dikutip Rabu (5/10/2022).
Menurutnya, istri dan anak-anak korban merasa kehilangan mendalam, terutama korban meninggal yang merupakan tulang punggung keluarga.
"Pun dengan peran korban lainnya," ujarnya.
Baca Juga: Ustadz Adi Hidayat Minta Tragedi Kanjuruhan Diusut Profesional dan Proporsional
Hudaniah menyebutkan, salah satu cara untuk mengurangi rasa kehilangan keluarga itu dengan cara dukungan sosial. Dukungan itu bisa diberikan oleh keluarga, tetangga, atau lembaga pemerintahan terdekat seperti RT atau RW yang bisa berusaha untuk menemani dan menenangkan keluarga korban.
Kemudian, lanjut dia, bila kondisi keluarga telah membaik, maka dianjurkan anggota keluarga yang ditinggalkan bisa move-on dan melakukan kegiatan lain untuk melanjutkan hidup.