LANGIT7.ID-Jakarta; Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan juga sahabat dekat Buya Syafii Ma'arif, Amin Abdullah, mengenang salah satu fase yang paling banyak diperbincangkan dalam perjalanan intelektualnya di Muhammadiyah.
Cerita itu disampaikan Amin Abdullah dalam acara "Malam Budaya: Menjaga Suluh, Merawat Nurani Bangsa" dan peluncuran buku "Buya Syafii di Mata Orang Biasa" yang digelar Ma'arif Institute di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Amin Abdullah menceritakan pengalamannya saat dipercaya memimpin Majelis Tarjih Muhammadiyah pada periode 1995-2000. Penunjukan itu, menurutnya, terbilang tidak biasa karena dirinya berasal dari latar belakang ilmu usuluddin, sementara posisi tersebut umumnya diisi kalangan syariah.
Ia mengaku berupaya mendorong pengembangan pemikiran Islam ketika memimpin Majelis Tarjih. Namun, gagasan-gagasan yang berkembang pada masa itu juga memunculkan perdebatan di lingkungan Muhammadiyah.
Setelah tidak lagi berada dalam jajaran pimpinan Muhammadiyah hasil Muktamar 2000, Amin Abdullah mengaku sempat menjadi sasaran tudingan liberalisasi pemikiran Islam.
"Kenalah aku dentuman liberalisasi," ujar dia.
Meski menghadapi kritik dan perbedaan pandangan, Amin Abdullah mengatakan hubungannya dengan Muhammadiyah tetap terjalin baik. Ia bahkan masih kerap diundang dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan persyarikatan.
![Amin Abdullah Kenang Masa Dicap Liberal di Muhammadiyah: 'Benci Tapi Rindu']()
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa perbedaan pandangan tidak selalu berujung pada renggangnya hubungan antarsesama warga organisasi.
Dengan nada bercanda, ia menggambarkan hubungannya dengan Muhammadiyah melalui sebuah ungkapan yang disambut tawa hadirin.
"Tetapi Muhammadiyah tetap, apa ya, benci tapi rindu dengan saya," ujar dia.
Amin Abdullah kemudian menjelaskan bahwa dirinya masih sering menerima undangan untuk mengisi berbagai forum Muhammadiyah, termasuk kegiatan pengajian Ramadan. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa ruang dialog dan pertukaran gagasan tetap terbuka meski terdapat perbedaan pandangan di dalam organisasi.
Baca juga: Gus Ulil Ungkap Kalimat Gus Mus soal NU dan Muhammadiyah: Makin Tinggi Ilmu, Justru BertemuDalam paparannya, Amin Abdullah juga menyinggung pentingnya dinamika pemikiran dalam perjalanan organisasi besar. Ia menilai perbedaan pendapat merupakan bagian dari proses intelektual yang dapat memperkaya cara pandang dan memperluas wawasan keislaman.
Kisah tersebut menjadi salah satu pengalaman pribadi yang dibagikannya dalam forum yang digelar untuk mengenang warisan pemikiran dan keteladanan Buya Syafii Maarif. Berbeda dari pembahasan mengenai karya dan gagasan Buya Syafii, Amin Abdullah memilih menyoroti pengalaman yang pernah ia alami sendiri selama berkiprah di Muhammadiyah, termasuk saat menghadapi kritik terhadap pemikiran yang dikembangkannya.
(lam)