Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 19 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Gus Ulil Ungkap Kalimat Gus Mus soal NU dan Muhammadiyah: Makin Tinggi Ilmu, Justru Bertemu

nabil Jum'at, 19 Juni 2026 - 09:55 WIB
Gus Ulil Ungkap Kalimat Gus Mus soal NU dan Muhammadiyah: Makin Tinggi Ilmu, Justru Bertemu
LANGIT7.ID-Jakarta; Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil, membagikan kenangannya tentang Buta Ahmad Syafii Maarif pada "Malam Budaya: Menjaga Suluh, Merawat Nurani Bangsa" dan peluncuran buku: "Buya Syafii di Mata Orang Biasa" yang digelar Ma'arif Institute, Kamis(18/6/2026). Dalam kesempatan itu, ia juga mengungkap satu pernyataan menarik dari KH Mustofa Bisri atau Gus Mus yang menurutnya sangat relevan untuk menggambarkan hubungan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Gus Ulil mengatakan, Buya Syafii bukan hanya dikenal sebagai tokoh besar Muhammadiyah, tetapi juga dihormati oleh kalangan NU. Menurutnya, sosok almarhum mampu menjembatani berbagai kelompok Islam dan menjadi figur yang diterima lintas organisasi.

Dalam pemaparannya, Gus Ulil menceritakan kembali sebuah komentar yang pernah disampaikan Gus Mus saat haul pertama Buya Syafii di Yogyakarta. Pernyataan itu, kata dia, meninggalkan kesan mendalam karena menggambarkan bagaimana kedewasaan dan keluasan ilmu dapat mempertemukan kelompok-kelompok yang selama ini dianggap berbeda.

"Orang NU yang sudah tinggi ilmunya maka akan menjadi Muhammadiyah. Sebaliknya, sebaliknya orang Muhammadiyah yang makin tinggi ilmunya akan menjadi NU," ujar dia.

Menurut Gus Ulil, pesan tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat kedewasaan pemikiran yang tinggi, sekat-sekat organisasi tidak lagi menjadi hal utama. Yang menonjol justru adalah nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan yang sama-sama diperjuangkan.

"Jadi ketika manusia itu menapaki tahap-tahap kedewasaan, pada kedewasaan yang paling tinggi di situ bertemu seluruh kelompok yang berbeda-beda. Itulah pesan yang disampaikan oleh Gus Mus dan saya kira itu relevan sekali," kata Gus Ulil.

Ia menilai Buya Syafii merupakan contoh nyata dari pandangan tersebut. Meski dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah, kehadirannya diterima luas oleh warga NU. Bahkan, menurut Gus Ulil, hal itu terlihat jelas ketika Buya Syafii wafat.

"Bagi saya Buya Syafii Maarif bukan sekedar tokoh Muhammadiyah tetapi juga tokoh NU dan itu dibuktikan ya, dibuktikan ketika beliau wafat ada rombongan Fatayat, Muslimat bertruk-truk datang ke makamnya Buya Syafii Maarif dan tahlil di sana," ujarnya.

Gus Ulil menyebut pemandangan tersebut menjadi salah satu bukti kuat bahwa Buya Syafii berhasil melampaui batas-batas identitas organisasi. Sosoknya dikenang bukan hanya oleh warga Muhammadiyah, tetapi juga oleh banyak kalangan di luar persyarikatan.

Ia pun mengapresiasi Ma'arif Institute yang terus merawat ingatan publik terhadap pemikiran dan keteladanan Buya Syafii. Di tengah dominasi tokoh politik dan figur media sosial dalam ruang publik, Gus Ulil menilai penting untuk terus menghadirkan kembali sosok pemikir yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan kebangsaan Indonesia.

Menurutnya, Buya Syafii merupakan salah satu tokoh yang menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada jarak, melainkan dapat menjadi ruang pertemuan untuk membangun pemahaman yang lebih luas dan mendalam.

Gus Ulil Ungkap Kalimat Gus Mus soal NU dan Muhammadiyah: Makin Tinggi Ilmu, Justru Bertemu


Gus Ulil Kenang Disertasi Buya Syafii yang Membentuk Cara Pandangnya soal Negara Islam


Dalam testimoninya, Gus Ulil juga mengenang perkenalannya dengan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif jauh sebelum keduanya bertemu secara langsung. Saat masih duduk di bangku Madrasah Aliyah di sebuah pesantren tradisional NU di Pati, Jawa Tengah, Gus Ulil mengaku pernah membaca karya akademik Buya Syafii yang meninggalkan kesan mendalam baginya.

Menurutnya, salah satu karya Buya Syafii yang paling membekas adalah disertasi tentang perdebatan negara Islam dalam Konstituante hasil Pemilu 1955.

Gus Ulil mengatakan dirinya mulai mengenal pemikiran Buya Syafii saat masih berusia belasan tahun. Meski mengaku belum sepenuhnya memahami isi buku tersebut ketika itu, ia tetap menuntaskan bacaannya hingga selesai.

"Pada saat saya umur sekitar enam belas, tujuh belas tahun, saya di Madrasah Aliyah, saya membaca disertasi Buya Syafii Maarif yang diterjemahkan pada saat itu dan diterbitkan oleh penerbit LTTI YS," ujar dia.

Disertasi yang dimaksud berjudul Islam dan Masalah Kebangsaan, yang membahas perdebatan mengenai negara Islam dalam sidang Konstituante pada era 1950-an. Bagi Gus Ulil yang saat itu masih berstatus santri, buku tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami pemikiran Islam modern di Indonesia.

Ia mengakui proses membaca karya tersebut tidak mudah. Namun, ada satu gagasan utama yang berhasil ia tangkap dan terus diingat hingga sekarang.

"Saya mengerti gagasan pokoknya bahwa konsep negara Islam itu sudah tidak lagi relevan di dalam Indonesia modern. Itu pesan yang saya tangkap dari buku itu," ujar dia.

Menurut Gus Ulil, pemikiran Buya Syafii dalam disertasi tersebut memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara Islam dan kebangsaan. Kajian itu tidak hanya membahas aspek keagamaan, tetapi juga menyoroti dinamika politik dan konstitusional yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.

Ia menilai karya akademik Buya Syafii menjadi salah satu referensi penting dalam diskursus mengenai posisi Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meski dibaca ketika masih remaja, gagasan yang terkandung di dalamnya tetap melekat dalam ingatannya hingga kini.

Bagi Gus Ulil, perkenalan dengan pemikiran Buya Syafii melalui buku tersebut menjadi titik awal sebelum akhirnya ia mengenal sosok cendekiawan Muhammadiyah itu secara langsung pada tahun-tahun berikutnya. Pemikiran yang tertuang dalam disertasi itu, kata dia, menjadi salah satu warisan intelektual penting yang terus relevan untuk dibaca dan didiskusikan hingga sekarang(*)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 19 Juni 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:57
Ashar
15:18
Maghrib
17:50
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)