LANGIT7.ID, Jakarta - Direktur Pusat Kajian Islam Quantum Akhyar Institute,
Ustadz Adi Hidayat (UAH), menyampaikan duka yang mendalam atas tragedi sepakbola di Stadion Kanjuruhan, Malang. Tragedi maut itu menyebabkan ratusan suporter Arema FC meninggal dunia.
“
Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’uun. Kita mendengar, mengetahui, menyimak terjadi satu musibah di Stadion Kanjuruhan yang tentunya mengundang keprihatinan dan dukacita mendalam dari kita semua, termasuk kami Adi Hidayat,” kata UAH melalui kanal Youtube-nya, Selasa (4/10/2022).
Dia meminta kepada semua pihak yang berkepentingan untuk menangani kasus itu secara profesional dan proporsional. Kasus itu harus diusut tuntas agar tidak terulang kejadian serupa di kemudian hari.
Baca Juga: Jokowi Minta TGIPF Ungkap Tuntas Tragedi Kanjuruhan
“Saya ingin mengajak seluruh pihak terkait musibah yang terjadi untuk secara proporsional menangani hal yang dimaksud dengan tertib, terukur, dan tentunya melahirkan ketentuan-ketentuan yang maslahat di kemudian hari,” kata UAH.
Dia meminta pemerintah maupun stakeholder terkait untuk mengevaluasi penuh pihak terkait agar tidak terulang kejadian serupa. Evaluasi itu penting untuk mengetahui penyebab dan mengantisipasi hal itu terjadi di kemudian hari.
“Kita tidak mengetahui teknis yang dimaksud, tapi kita mendoakan semoga dalam proses itu semua
stakeholder diberikan kemudahan dan menghasilkan proses yang berkeadilan,” ujar UAH.
Selain itu, UAH mengajak semua pihak ikut membantu keluarga korban dalam tragedi maut di Stadion Kanjuruhan. Bantuan itu bisa disalurkan melalui lembaga sosial atau pun datang secara langsung ke keluarga korban.
Baca Juga: Cak Nun Minta TGIPF Bekerja Objektif dan Independen Tanpa Intervensi Polri
“Jangan lihat agamanya, jangan lihat asal daerahnya, jangan lihat gender laki-laki atau perempuannya. Sepanjang kita mampu membersamai, membantu yang bisa kita lakukan. Hadir bersama mereka untuk memberi dukungan terbaik yang mempercepat kesembuhan dan kebaikan-kebaikan lainnya,” ujar UAH.
Menurut UAH, tragedi Kanjuruhan tak boleh terulang lagi sebab semestinya olahraga menjadi momen yang menggembirakan dan menyatukan. Menang kalah harus diterima dengan lapang dada.
Bukan hanya fans setia, tapi terkadang kesetiaan menghadirkan perhatian-perhatian mendalam. Terkadang pula memunculkan rasa yang tidak berimbang. Mendukung adalah hal yang wajar.
Baca Juga: Gusdurian Galang Donasi untuk Korban Tragedi Kanjuruhan
Cinta kepada klub sepak bola adalah hal wajar. Hal yang tidak wajar jika dukungan dan kecintaan itu berlebihan. Berlebihan dalam mendukung bisa melahirkan perasaan-perasaan yang tidak positif. Cinta yang berlebihan kadang menggelisahkan bahkan menyusahkan.
“Karena itu, Mari kita kembalikan cara pandang dan rasa kita terhadap olahraga untuk menikmati momen-momen itu. Untuk menghadirkan kebersamaan, keceriaan, kebahagiaan,” kata UAH.
(jqf)