MPR Serukan Penyelesaian Damai Konflik Rusia-Ukraina
Andi Muhammad
Kamis, 06 Oktober 2022 - 21:31 WIB
MPR Serukan Penyelesaian Damai Konflik Rusia-Ukraina. Foto: Istimewa.
Ketua MPR Bambang Soesatyo mengapresiasi sikap Rusia yang siap membuka dialog perundingan dengan Ukraina. Sesuai prinsip luar negeri Bebas dan Aktif, Indonesia tidak pernah memihak pihak yang bertikai, melainkan selalu berpihak kepada terwujudnya perdamaian dunia.
Begitupun dalam menyikapi konflik militer Rusia-Ukraina, Indonesia selalu menyerukan kepada kedua negara sahabat tersebut tentang pentingnya mengedepankan dialog berkeadilan, sehingga konflik segera bisa dihentikan secepat mungkin. Bukan hanya demi kebaikan warga Rusia dan Ukraina, melainkan juga demi kebaikan seluruh warga dunia.
"Sebagaimana disampaikan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Valentina Matvienko, posisi Indonesia bagi Rusia sangat penting. Indonesia dinilai sebagai mitra kunci bagi Rusia di kawasan Asia Pasifik," kata Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (6/9/2022).
"Rusia juga menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Sebagai sahabat, Indonesia berharap agar konflik militer Rusia-Ukraina bisa segera berakhir, dan dunia bisa kembali pulih," imbuhnya.
Baca Juga:Krisis Gas Diprediksi Memburuk Usai Eropa Habiskan Stok Musim Dingin
Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, kedekatan Indonesia dengan Rusia terjalin sejak tahun 1956. Keberadaan Gedung Nusantara di Komplek MPR/DPR/DPD RI, dibangun atas gagasan Presiden Soekarno untuk menyelenggarakan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces), di mana Rusia yang saat itu masih menjadi Uni Soviet, termasuk yang mendukung gagasan Presiden Soekarno dalam New Emerging Forces.
"Keberadaan komplek Stadion Gelora Bung Karno (GBK) juga tidak lepas dari peran Presiden Uni Soviet Nikita Khrushchev yang mengirimkan para insinyur dan teknisi dari Uni Soviet untuk membantu merancang dan membangun Stadion GBK. Tidak heran jika di Rusia juga terdapat stadion yang menyerupai GBK, yakni Stadion Stadion Luzhniki yang terletak di Luzhniki, Moskwa," ujar dia.
Begitupun dalam menyikapi konflik militer Rusia-Ukraina, Indonesia selalu menyerukan kepada kedua negara sahabat tersebut tentang pentingnya mengedepankan dialog berkeadilan, sehingga konflik segera bisa dihentikan secepat mungkin. Bukan hanya demi kebaikan warga Rusia dan Ukraina, melainkan juga demi kebaikan seluruh warga dunia.
"Sebagaimana disampaikan Ketua Dewan Federasi Majelis Federal Federasi Rusia Valentina Matvienko, posisi Indonesia bagi Rusia sangat penting. Indonesia dinilai sebagai mitra kunci bagi Rusia di kawasan Asia Pasifik," kata Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (6/9/2022).
"Rusia juga menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Sebagai sahabat, Indonesia berharap agar konflik militer Rusia-Ukraina bisa segera berakhir, dan dunia bisa kembali pulih," imbuhnya.
Baca Juga:Krisis Gas Diprediksi Memburuk Usai Eropa Habiskan Stok Musim Dingin
Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, kedekatan Indonesia dengan Rusia terjalin sejak tahun 1956. Keberadaan Gedung Nusantara di Komplek MPR/DPR/DPD RI, dibangun atas gagasan Presiden Soekarno untuk menyelenggarakan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces), di mana Rusia yang saat itu masih menjadi Uni Soviet, termasuk yang mendukung gagasan Presiden Soekarno dalam New Emerging Forces.
"Keberadaan komplek Stadion Gelora Bung Karno (GBK) juga tidak lepas dari peran Presiden Uni Soviet Nikita Khrushchev yang mengirimkan para insinyur dan teknisi dari Uni Soviet untuk membantu merancang dan membangun Stadion GBK. Tidak heran jika di Rusia juga terdapat stadion yang menyerupai GBK, yakni Stadion Stadion Luzhniki yang terletak di Luzhniki, Moskwa," ujar dia.