LANGIT7, Jakarta - Eropa berpotensi menghadapi krisis energi lebih akut tahun depan setelah menguras tangki gas alamnya untuk melewati dinginnya musim dingin kali ini. Asumsi tersebut disampaikan Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Kamis (6/10/2022).
Negara-negara Eropa telah mengisi tangki penyimpanan hingga sekitar 90 persen dari kapasitas mereka setelah Rusia memotong pasokan gas sebagai tanggapan atas sanksi Barat yang dijatuhkan atas invasinya ke Ukraina. Harga gas yang melonjak dalam beberapa bulan setelah invasi pada Februari, telah menurun. Namun itu bisa berlangsung singkat karena negara-negara bersaing untuk membeli gas alam cair (LNG) dan alternatif lain untuk pengiriman pipa Rusia.
Baca Juga: Anggaran Subsidi BBM Bisa untuk Bangun Banyak Jalan Tol dan Rumah SakitUntuk membantu mengatasi rasa sakit, Uni Eropa sedang mempertimbangkan pembatasan harga gas. Kenaikan harga belakangan menjadi masalah yang memecah blok 27 negara. Pasalnya, beberapa negara khawatir hal itu dapat mempersulit mengamankan pasokan gas.
"Dengan penyimpanan gas hampir 90 persen, Eropa akan bertahan pada musim dingin mendatang dengan hanya beberapa memar selama tidak ada kejutan politik atau teknis," kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol yang berbasis di Paris, Kamis (6/10/2022).
Tantangan nyata yang dihadapi Eropa, yang secara historis mengandalkan Rusia untuk sekitar 40 persen dari pasokan gas alamnya, akan dimulai pada Februari atau Maret ketika penyimpanan perlu diisi ulang. Pasalnya untuk kebutuhan musim dingin tahun ini cukup terkuras 25-30 persen.
Baca Juga: Subsidi BBM Indonesia Capai Rp520 Triliun, Jokowi: Negara Lain Tak Akan Sanggup"Musim dingin ini sulit tetapi musim dingin berikutnya mungkin juga sangat sulit," kata Birol kepada wartawan di Finlandia.
Pemerintah Eropa telah bergerak untuk melindungi konsumen dari dampak harga yang lebih tinggi dan pada, Rabu (5/10/2022). Sementara, Jerman akan mensubsidi tagihan listrik tahun depan dengan membayar di bawah 13 miliar euro (12,8 miliar dolar AS) terhadap biaya penggunaan yang dibebankan oleh empat perusahaan jaringan transmisi tegangan tinggi (TSO).
Biaya tersebut merupakan bagian dari tagihan listrik, terhitung sekitar 10 persen dari biaya keseluruhan untuk pelanggan ritel dan sepertiga untuk perusahaan industri di sektor seperti baja atau bahan kimia. Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengatakan, intervensi Berlin menstabilkan biaya, yang jika tidak akan meningkat tiga kali lipat mengingat harga listrik grosir yang tidak terkendali dan meningkatnya biaya operasional untuk TSO.
Baca Juga: Cuitan Presiden Sri Lanka: Minta Bantuan Putin Kirimi Bahan BakarSampai perang Ukraina pecah pada akhir Februari, pipa Nord Stream 1 di bawah Laut Baltik dari Rusia ke Jerman adalah salah satu sumber utama gas Eropa barat. Nord Stream 1 terdiri dari dua jalur terpisah seperti halnya Nord Stream 2, yang diisi dengan gas, tetapi tidak pernah diizinkan untuk mengirimkan pasokan ke Eropa karena Jerman menangguhkan otorisasi sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari.
Tiga dari empat saluran telah dinonaktifkan oleh apa yang dikatakan Barat dan Rusia sebagai sabotase yang menyebabkan kebocoran besar dan pihak berwenang Denmark mengatakan saluran keempat sedang tertekan pada Selasa (4/10/2022).
Baca Juga:
PUPR Tekankan Peran Bendungan untuk Atasi Krisis Air
Liburan ke Tempat Dingin, Intip Inspirasi Outfit Zaskia Sungkar
Ini Tips Umrah saat Musim Dingin, Nomor 5 Sering Terlupa(asf)