Sejarah Gugurnya 74 Laskar Hisbullah di Semarang
Arif purniawan
Senin, 16 Agustus 2021 - 20:30 WIB
Tembok kayu rumah H Musthofa, sebagai markas Laskar Hisbullah di Semarang terlihat berlubang setelah ditembaki tentang Belanda. (foto: Komunitas Lopen Semarang)
Di Bugen, Kelurahan Tlogosari Kulon, Kota Semarang, terdapat makam 74 pejuang Hisbullah, salah satunya adalah H Musthofa. Mereka gugur ketika sedang berada di rumah H Musthofa, yang menjadi markas Hisbullah pada Ahad, 11 Muharram tahun 1946 silam.
Para pejuang kemerdekaan tersebut kemudian oleh tentara belanda di makamkan di depan rumah tersebut. Rumah berukuran 15 x 8 meter persegi itu masih terawat hingga saat ini, dan dihuni oleh cucu H Musthofa, Faizin Burhanudin. Meski sudah berusia lebih dari setengah abad, lubang-lubang kecil bekas tembakan tentara Belanda ini masih nampak.
Sejarawan Kota Semarang, Yunantyo Adi, mengatakan, sebelum terbentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), atau cikal bakal ABRI, yang sudah memiliki persenjataan lebih modern hasil rampasan, banyak laskar-laskar yang dibentuk dari partai, kelompok, atau pun organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan. Salah satunya adalah Hisbullah, dari Ormas Nahdlatul Ulama (NU).
“Jika mengamati peninggalan Laskar Hisbullah di Semarang berupa samurai, saya meyakini itu adalah rampasan dari tentara Jepang. Sebab, setelah Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka, pada 17 Agustus 1945 semangat perlawanan kepada Jepang semakin berkobar,” kata Yunantyo Adi, kepada LANGIT7, Senin (16/8).
Dia tidak heran, ketika Belanda tiba dan mulai menjajah Indonesia, mereka kaget, karena banyak laskar yang memiliki senjata, baik itu samurai, maupun senjata api. Laskar-laskar ini sebenarnya adalah didikan dari tentara Jepang, tapi setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, mereka seperti anak macan yang memangsa induknya.
“Oleh pendiri NU Haddratus Syeikh Hasyim Asyari, santrinya dibolehkan ikut pelatihan perang dari Jepang. Karena beliau sudah memprediksi, jika suatu saat terjadi huru-hara, akan siap untuk menghadapi penjajah. Karena jika pun punya senjata tapi tidak memiliki kemampuan berperang , kan sama saja,” ucapnya.
Para pejuang kemerdekaan tersebut kemudian oleh tentara belanda di makamkan di depan rumah tersebut. Rumah berukuran 15 x 8 meter persegi itu masih terawat hingga saat ini, dan dihuni oleh cucu H Musthofa, Faizin Burhanudin. Meski sudah berusia lebih dari setengah abad, lubang-lubang kecil bekas tembakan tentara Belanda ini masih nampak.
Sejarawan Kota Semarang, Yunantyo Adi, mengatakan, sebelum terbentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), atau cikal bakal ABRI, yang sudah memiliki persenjataan lebih modern hasil rampasan, banyak laskar-laskar yang dibentuk dari partai, kelompok, atau pun organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan. Salah satunya adalah Hisbullah, dari Ormas Nahdlatul Ulama (NU).
“Jika mengamati peninggalan Laskar Hisbullah di Semarang berupa samurai, saya meyakini itu adalah rampasan dari tentara Jepang. Sebab, setelah Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka, pada 17 Agustus 1945 semangat perlawanan kepada Jepang semakin berkobar,” kata Yunantyo Adi, kepada LANGIT7, Senin (16/8).
Dia tidak heran, ketika Belanda tiba dan mulai menjajah Indonesia, mereka kaget, karena banyak laskar yang memiliki senjata, baik itu samurai, maupun senjata api. Laskar-laskar ini sebenarnya adalah didikan dari tentara Jepang, tapi setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, mereka seperti anak macan yang memangsa induknya.
“Oleh pendiri NU Haddratus Syeikh Hasyim Asyari, santrinya dibolehkan ikut pelatihan perang dari Jepang. Karena beliau sudah memprediksi, jika suatu saat terjadi huru-hara, akan siap untuk menghadapi penjajah. Karena jika pun punya senjata tapi tidak memiliki kemampuan berperang , kan sama saja,” ucapnya.