Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Sejarah Gugurnya 74 Laskar Hisbullah di Semarang

arif purniawan Senin, 16 Agustus 2021 - 20:30 WIB
Sejarah Gugurnya 74 Laskar Hisbullah di Semarang
Tembok kayu rumah H Musthofa, sebagai markas Laskar Hisbullah di Semarang terlihat berlubang setelah ditembaki tentang Belanda. (foto: Komunitas Lopen Semarang)
LANGIT7.ID, Semarang - Di Bugen, Kelurahan Tlogosari Kulon, Kota Semarang, terdapat makam 74 pejuang Hisbullah, salah satunya adalah H Musthofa. Mereka gugur ketika sedang berada di rumah H Musthofa, yang menjadi markas Hisbullah pada Ahad, 11 Muharram tahun 1946 silam.

Para pejuang kemerdekaan tersebut kemudian oleh tentara belanda di makamkan di depan rumah tersebut. Rumah berukuran 15 x 8 meter persegi itu masih terawat hingga saat ini, dan dihuni oleh cucu H Musthofa, Faizin Burhanudin. Meski sudah berusia lebih dari setengah abad, lubang-lubang kecil bekas tembakan tentara Belanda ini masih nampak.

Sejarawan Kota Semarang, Yunantyo Adi, mengatakan, sebelum terbentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), atau cikal bakal ABRI, yang sudah memiliki persenjataan lebih modern hasil rampasan, banyak laskar-laskar yang dibentuk dari partai, kelompok, atau pun organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan. Salah satunya adalah Hisbullah, dari Ormas Nahdlatul Ulama (NU).

“Jika mengamati peninggalan Laskar Hisbullah di Semarang berupa samurai, saya meyakini itu adalah rampasan dari tentara Jepang. Sebab, setelah Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka, pada 17 Agustus 1945 semangat perlawanan kepada Jepang semakin berkobar,” kata Yunantyo Adi, kepada LANGIT7, Senin (16/8).

Dia tidak heran, ketika Belanda tiba dan mulai menjajah Indonesia, mereka kaget, karena banyak laskar yang memiliki senjata, baik itu samurai, maupun senjata api. Laskar-laskar ini sebenarnya adalah didikan dari tentara Jepang, tapi setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, mereka seperti anak macan yang memangsa induknya.

“Oleh pendiri NU Haddratus Syeikh Hasyim Asyari, santrinya dibolehkan ikut pelatihan perang dari Jepang. Karena beliau sudah memprediksi, jika suatu saat terjadi huru-hara, akan siap untuk menghadapi penjajah. Karena jika pun punya senjata tapi tidak memiliki kemampuan berperang , kan sama saja,” ucapnya.

Laskar Hisbullah di Semarang, sebelumnya juga ikut ambil bagian dari pertempuran 5 hari di Semarang, yang meletus pada 15 -19 Oktober 1945, atau setelah Indonesia merdeka. Tidak menutup kemungkinan, bilah atau samurai ini didapat dari perang di lokasi yang sekarang berdiri ikoan Kota Semarang, Tugu Muda.

Cucu H Musthofa, Faizin Burhandin mengatakan, berdasarkan keterangan yang didapat dari orang tuanya, kakeknya tersebut meninggal bersama puluhan laskar lainnya dalam keadaan masih memegang samurai. Mereka meninggal karena Belanda menembaki rumah, baik dari sisi atas maupun bawah.

“Misalkan tiarap saja, bisa terkena tembakan. Jenazah syuhada ini masih menggenggam senjata-senjata ini, sampai sekarang masih terjaga dari keluarga simbah,” cerita Faizin, di Channel Youtube J Christiono, sambil memperlihatkan samurai.

Pada saat memperingati hari Pahlawan 1960, pemerintah menghormati jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur, dengan memindahkan 40 kerangka ke Taman Maka Pahlawan, di Giri Tunggal, Semarang. Adapun 34 kerangka lainnya masih dibiarkan di depan rumah.

Setelah melakukan penembakan yang menyebabkan puluhan pejuang gugur, Belanda membuat kuburan massal dengan meledakkan dinamit di depan rumah H Musthofa.
Belanda kemudian memakamkan jenazah dalam satu liang. Dalam perkembangannya, jalan dekat makam tersebut dinamakan Jalan Syuhada, sebagai penghormatan kepada para pahlawan.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)