Mengenal Hotel Grand Inna Dharma Deli, Bangunan Legendaris di Kota Medan
Hasanah syakim
Ahad, 06 November 2022 - 23:20 WIB
Hotel Grand Inna Dharma Deli yang dulu dikenal sebagai Hotel de Boer (foto: Dinas Pariwisata Kota Medan)
Hotel Grand Inna Dharma Deli menjadi salah satu hotel peninggalan Hindia Belanda. Hotel ini dibangun di zaman kolonial Belanda yang memiliki nilai sejarah.
Hotel ini merupakan penggabungan dua hotel, yakni Hotel Wisma Deli dan Hotel Dharma Bakti.
Dilansir dari laman resmi Pariwisata Kota Medan, hotel ini dibangun tepat pada tahun 1898 oleh pengusaha asal Belanda bernama Aeint Herman de Boer. Dulunya bangunan ini bernama NV.Hotel Mijn de Boer dan lebih dikenal dengan nama Hotel De Boer.
Baca juga:5 Tips Jadikan Liburan Lebih Menyenangkan, Bukan Cuma Persiapan
Awalnya, pembangunan Hotel De Boer hanya terdiri dari restoran, bar, dan tujuh kamar. Kemudian, pada tahun 1909 terjadi penambahan kamar menjadi 40 kamar. Bangunan eks Hotel De Boer masih dipertahankan sampai saat ini, dan posisinya berada di bagian tengah yang berlantai dua dan memiliki 51 kamar.
Pada 14 Desember 1957, dalam rangka nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, Hotel NV Mijn De Boer diambil alih pemerintah Indonesia. Hotel De Boer pada zaman kolonial Belanda ini juga pernah dihuni oleh tamu-tamu kehormatan pemerintah Belanda dan artis-artis Barat.
Bangunan hotel yang merupakan warisan Belanda sama sekali tidak ada perubahan dalam bentuk Arsitektur bangunan, akan tetapi perubahan itu terlihat hanya pengecatan dan penggantian keramik lantai yang rusak. Sehingga, kesan bangunan tempo dulu masih dipertahankan dengan baik.
Hotel ini merupakan penggabungan dua hotel, yakni Hotel Wisma Deli dan Hotel Dharma Bakti.
Dilansir dari laman resmi Pariwisata Kota Medan, hotel ini dibangun tepat pada tahun 1898 oleh pengusaha asal Belanda bernama Aeint Herman de Boer. Dulunya bangunan ini bernama NV.Hotel Mijn de Boer dan lebih dikenal dengan nama Hotel De Boer.
Baca juga:5 Tips Jadikan Liburan Lebih Menyenangkan, Bukan Cuma Persiapan
Awalnya, pembangunan Hotel De Boer hanya terdiri dari restoran, bar, dan tujuh kamar. Kemudian, pada tahun 1909 terjadi penambahan kamar menjadi 40 kamar. Bangunan eks Hotel De Boer masih dipertahankan sampai saat ini, dan posisinya berada di bagian tengah yang berlantai dua dan memiliki 51 kamar.
Pada 14 Desember 1957, dalam rangka nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, Hotel NV Mijn De Boer diambil alih pemerintah Indonesia. Hotel De Boer pada zaman kolonial Belanda ini juga pernah dihuni oleh tamu-tamu kehormatan pemerintah Belanda dan artis-artis Barat.
Bangunan hotel yang merupakan warisan Belanda sama sekali tidak ada perubahan dalam bentuk Arsitektur bangunan, akan tetapi perubahan itu terlihat hanya pengecatan dan penggantian keramik lantai yang rusak. Sehingga, kesan bangunan tempo dulu masih dipertahankan dengan baik.