Eks Presiden FIFA Menyesal Pilih Qatar Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022
Redaksi
Kamis, 10 November 2022 - 07:38 WIB
Eks Presiden FIFA Sepp Blatter saat mengumumkan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. (Foto: Bleacher Report)
Eks Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengakui keputusan menunjuk Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah sebuah kesalahan. Blatter pun mengungkapkan penyesalannya memilih Qatar karena negara itu dianggap terlalu kecil untuk perhelatan empat tahunan tersebut.
Qatar terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 pada 2010 silam. Saat itu, Blatter masih menjabat sebagai Presiden FIFA. "Qatar adalah sebuah kesalahan," kata Blatter dikutip dari Sky Sports, Kamis (10/11/2022).
Blatter mengungkapkan bahwasanya Komite Eksekutif FIFA saat itu sebenarnya ingin menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Alasan perdamaian dipilih mengingat Piala Dunia 2018 digelar di Rusia. "Itu akan menjadi isyarat perdamaian jika dua lawan politik lama menjadi tuan rumah Piala Dunia secara bergantian," ungkap Blatter.
Baca Juga:Aturan Ketat Masuk Qatar untuk Penonton Piala Dunia 2022
Meski demikian, Blatter menyatakan bertanggung jawab penuh atas keputusannya menunjuk Qatar tahun ini. "Qatar negara yang terlalu kecil. Sepak bola dan Piala Dunia terlalu besar untuk Qatar. Saya ulangi, memilih Qatar adalah sebuah kesalahan," ucap Blatter.
Di sisi lain, terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah juga diiringi sejumlah kontroversi. Mulai dari tuduhan korupsi, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap pekerja asing.
Blatter mengaku mengambil banyak pelajaran dari penunjukan Qatar kali ini. Terlebih, FIFA sejak 2012 telah melakukan amandemen terhadap kriteria pemilihan negara tuan rumah Piala Dunia. "Sejak saat itu, pertimbangan sosial dan hak asasi manusia masuk dalam perhitungan," tutur Blatter.
Qatar terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 pada 2010 silam. Saat itu, Blatter masih menjabat sebagai Presiden FIFA. "Qatar adalah sebuah kesalahan," kata Blatter dikutip dari Sky Sports, Kamis (10/11/2022).
Blatter mengungkapkan bahwasanya Komite Eksekutif FIFA saat itu sebenarnya ingin menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Alasan perdamaian dipilih mengingat Piala Dunia 2018 digelar di Rusia. "Itu akan menjadi isyarat perdamaian jika dua lawan politik lama menjadi tuan rumah Piala Dunia secara bergantian," ungkap Blatter.
Baca Juga:Aturan Ketat Masuk Qatar untuk Penonton Piala Dunia 2022
Meski demikian, Blatter menyatakan bertanggung jawab penuh atas keputusannya menunjuk Qatar tahun ini. "Qatar negara yang terlalu kecil. Sepak bola dan Piala Dunia terlalu besar untuk Qatar. Saya ulangi, memilih Qatar adalah sebuah kesalahan," ucap Blatter.
Di sisi lain, terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah juga diiringi sejumlah kontroversi. Mulai dari tuduhan korupsi, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap pekerja asing.
Blatter mengaku mengambil banyak pelajaran dari penunjukan Qatar kali ini. Terlebih, FIFA sejak 2012 telah melakukan amandemen terhadap kriteria pemilihan negara tuan rumah Piala Dunia. "Sejak saat itu, pertimbangan sosial dan hak asasi manusia masuk dalam perhitungan," tutur Blatter.