4 Masjid Bersejarah Saksi Perlawanan terhadap Penjajah
Andi Muhammad
Kamis, 10 November 2022 - 21:35 WIB
4 Masjid Bersejarah Saksi Perlawanan terhadap Penjajah. Foto: Istimewa.
Dalam rangka memeringati Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November 2022, ada empat masjid bersejarah yang menjadi tempat atau markas para pejuang dalam melawan penjajahan.
Sebelum Indonesia merdeka, masjid menjadi salah satu tempat menyusun strategi dan titik kumpulnya para pejuang. Meski demikian, hal tersebut tidak menghilangkan fungsi utama masjid sebagai tempat beribadah.
Pada era penjajahan, masjid juga menjadi tempat mengadu para pahlawan kepada Sang Khalik untuk memohon pertolongan dalam memerjuangkan kemerdekaan. Berikut empat masjid yang memiliki sejarah dalam melawan para penjajah.
Baca Juga:Materi Khutbah Rasulullah SAW Ketika Terjadi Gerhana
1. Masjid Jami Matraman
Masjid yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat ini merupakan saksi bisu para pejuang dalam memerangi kejamnya penjajahan Belanda. Masjid Jami Matraman berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka.
Pada tahun 1800-an masjid ini juga menjadi markas pasukan Mataram Islam untuk memantau pergerakan pasukan Belanda. Kala itu kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang akrab dipanggil Syekh Kuro.
Sebelum Indonesia merdeka, masjid menjadi salah satu tempat menyusun strategi dan titik kumpulnya para pejuang. Meski demikian, hal tersebut tidak menghilangkan fungsi utama masjid sebagai tempat beribadah.
Pada era penjajahan, masjid juga menjadi tempat mengadu para pahlawan kepada Sang Khalik untuk memohon pertolongan dalam memerjuangkan kemerdekaan. Berikut empat masjid yang memiliki sejarah dalam melawan para penjajah.
Baca Juga:Materi Khutbah Rasulullah SAW Ketika Terjadi Gerhana
1. Masjid Jami Matraman
Masjid yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat ini merupakan saksi bisu para pejuang dalam memerangi kejamnya penjajahan Belanda. Masjid Jami Matraman berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka.
Pada tahun 1800-an masjid ini juga menjadi markas pasukan Mataram Islam untuk memantau pergerakan pasukan Belanda. Kala itu kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang akrab dipanggil Syekh Kuro.