Pendidikan Agama di Masa Kecil, Insya Allah Lahirkan Pemimpin Bebas Korupsi
Muhajirin
Rabu, 12 Januari 2022 - 08:50 WIB
Ilustrasi pemimpin yang berani menolak korupsi. Foto: Langit7.id/iStock
Agama adalah nasihat. Nasihat adalah ungkapan yang membawa kebaikan. Karena pentingnya nasihat itu, Nabi Muhammad SAW menjadikannya bagian dari agama.
Penjelasan mengenai hal itu diterangkan dalam hadits ketujuh Arbain An-Nawaiyah, di mana Rasulullah bersabda, :Agama adalah nasihat. Kami bertanya, Untuk siapa? Beliau menjawab, Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya." (HR. Muslim No 55)
Khalifah Umar bin Abdul Aziz, misalnya. Di masa kecilnya, dia sudah ditempa dengan ajaran agama hingga menjadi seorang pemimpin dari Bani Umayyah yang banyak menginspirasi pemimpin dunia. Umar bin Abdul Aziz tidak hanya mengelola negara bebas dari korupsi, tapi mampu membawa kemakmuran kepada masyarakatnya. Dialah teladan pemimpin yang lahir dari pendidikan agama.
Sebuah keteladanan yang turun dari kepemimpinan Nabi Muhammad yang mampu membangun masyarakat dengan tingkat kemakmuran sangat tinggi di Madinah. Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sangat relevan menjawab masalah korupsi di Tanah Air. Pemimpin yang adil, jujur, amanah, dan fathanah.
Rektor Universitas Ibnu Khaldum, Musni Umar mengungkapkan, ajaran Islam belajar dari kaum yang lebih maju guna memperbaiki diri. Ajaran itu bisa diterapkan dalam upaya Indonesia memberantas korupsi. Indonesia bisa melihat negara-negara barat yang mempunyai skor indeks persepsi korupsi (IPK) yang baik.
“Ajaran agama meminta kita belajar dari kaum yang lebih maju, agar kita bisa memperbaiki diri. Tidak ada masalah dalam hubungan antarmanusia, tidak ada salahnya dalam melakukan hal-hal seperti yang terkait dengan perkembangan negara,” kata Musni Umar kepada Langit7.id, Senin (5/7/2021).
Pemberantasan korupsi juga bisa dilakukan dari rumah yang mana orang tua berperan sebagai guru. Pendidikan adab yang ditanamkan sejak dini akan terbawa hingga dewasa. Rumah bisa menjadi pesantren mini, tempat menanamkan nilai-nilai ajaran Islam.
Penjelasan mengenai hal itu diterangkan dalam hadits ketujuh Arbain An-Nawaiyah, di mana Rasulullah bersabda, :Agama adalah nasihat. Kami bertanya, Untuk siapa? Beliau menjawab, Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya." (HR. Muslim No 55)
Khalifah Umar bin Abdul Aziz, misalnya. Di masa kecilnya, dia sudah ditempa dengan ajaran agama hingga menjadi seorang pemimpin dari Bani Umayyah yang banyak menginspirasi pemimpin dunia. Umar bin Abdul Aziz tidak hanya mengelola negara bebas dari korupsi, tapi mampu membawa kemakmuran kepada masyarakatnya. Dialah teladan pemimpin yang lahir dari pendidikan agama.
Sebuah keteladanan yang turun dari kepemimpinan Nabi Muhammad yang mampu membangun masyarakat dengan tingkat kemakmuran sangat tinggi di Madinah. Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sangat relevan menjawab masalah korupsi di Tanah Air. Pemimpin yang adil, jujur, amanah, dan fathanah.
Rektor Universitas Ibnu Khaldum, Musni Umar mengungkapkan, ajaran Islam belajar dari kaum yang lebih maju guna memperbaiki diri. Ajaran itu bisa diterapkan dalam upaya Indonesia memberantas korupsi. Indonesia bisa melihat negara-negara barat yang mempunyai skor indeks persepsi korupsi (IPK) yang baik.
“Ajaran agama meminta kita belajar dari kaum yang lebih maju, agar kita bisa memperbaiki diri. Tidak ada masalah dalam hubungan antarmanusia, tidak ada salahnya dalam melakukan hal-hal seperti yang terkait dengan perkembangan negara,” kata Musni Umar kepada Langit7.id, Senin (5/7/2021).
Pemberantasan korupsi juga bisa dilakukan dari rumah yang mana orang tua berperan sebagai guru. Pendidikan adab yang ditanamkan sejak dini akan terbawa hingga dewasa. Rumah bisa menjadi pesantren mini, tempat menanamkan nilai-nilai ajaran Islam.